Email: tafsirhadits@ymail.com / emand_99@hotmail.com

Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label Tafsir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafsir. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Januari 2015

The Abstrac



Semakin membumi tafsir itu, semakin mudah dipahami maksud dan tujuan ajarannya. Tafsir yang sesuai dengan bahasa masyarakat akan memudahkan masyarakat memahami Alquran, dan semakin dekat pula dalam pengamalannya.
 Ini dibuktikan Daud Ismail dengan berhasil menampilkan tafsir yang susunan dan gaya bahasanya lebih mudah diterima dan dipahami oleh masyarakat Bugis setempat. Karena kitab-kitab tafsir yang ada selama ini dinilai terlalu banyak menggunakan bahasa Arab dan istilah yang terasa sulit dicerna dan dipahami oleh kebanyakan masyarakat setempat yang bukan bahasa mereka, apalagi telah dibumbuhi dengan istilah-istilah tertentu, seperti ilmu balaghah, nahwu, dan s}arf, yang semuanya justru kadang membingungkan para pembacanya.
Hal ini memperkuat pendapat Muh}ammad al-Fād}il ibn ‘Āshūr dalam al-Tafsīr wa Rijāluhu, bahwa penjelasan atau tafsir Alquran sebaiknya mengikuti menggunakan bahasa yang dipahami oleh masyarakat itu. Sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat وماأرسلناك من رسول إلا بلسان قومهم ليبين لهم .
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif termasuk penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan pendekatan tafsir. Sumber utama penelitian ini adalah kitab Tafsīr al-Munīr karya Daud Ismail. Untuk mendapatkan aspek metodologinya digunakan beberapa kitab ‘ulūm al-Qur’ān dan kitab-kitab tafsir klasik maupun modern. Data-data yang dibaca dengan standar ilmu tafsir yang meliputi metode dan kandungan tafsir. Pemahaman kandungan tafsir melalui teori discourse analysis (analisis wacana), dan untuk menganalisis data yang ada dibantu dengan pendekatan tafsir.


 




Manusia Terbaik Adalah Yang Bermanfaat terhadap Yang Lainnya

Minggu, 24 Agustus 2014

SYEKH SYA’RAWI DAN MODERASI ISLAM

SYEKH SYA’RAWI DAN MODERASI ISLAM

             Beliau adalah seorang pakar tafsir kontemporer yang gigih menerapkan prinsip syariah dalam kehidupan sehari-hari. Beliau lahir pada tanggal 15 April 1911 M di kampung Daqadus desa Mid Ghamr, Daqhliyyah (salah satu bagian wilayah di Mesir). Beliau wafat pada tanggal 17 juni 1998 M.    Pada hari Rabu 17 Juni 1998 M, Syekh Sya’rawi wafat di usia 87 tahun dan jasadnya dimakamkan di Mesir. Ayahnya adalah seorang pedagang yang sangat mencintai ilmu pengetahuan.
             Pendidikan Sya’rawi dimulai dari menghafal al-Qur’an dari seorang syaikh di kampungnya iaitu Syekh Abdul Majid Pasha. Beliau menamatkan hafalan al-Qur’an pada usia 11 tahun, kemudian Ia masuk sekolah dasar (Ibtidaa’i) di al-Azhar, Zaqaziq tahun 1926 M. Lalu, dia melanjutkan sekolah menengah pertama (I’daadi) di al-Azhar, dan tamat Tsanawiyyah pada tahun 1932 M. Syaikh Sya’rawi masuk kuliah di fakultas Bahasa Arab, Universita Al-Azhar pada tahun 1937 M, dan tamat S1 (BA) pada tahun 1941 M.
Karirnya diawali sebagai tenaga pengajar di ma’had al-Azhar Tanta, ma’had Alexandria, ma’had Zaqaziq.  Beliau juga mengabdikan ilmunya di luar negri (sebagai dosen) kurang lebih 16 tahun:

1) Universitas Malik Abdul Aziz, Makkah, Saudi Arabiah (6 tahun) dari 1944 hingga 1950.
2) Al-Jazair (4 tahun) dari 1966 hinga 1970).
3) Universitas Malik Abdul Aziz, Makkah, Saudi Arabiah (6 tahun) dari 1970 hingga 1976.

              Nama beliau mulai mencuat dan dikenal luas ketika menjadi seorang da’i pada tahun 1973 M tepatnya pada program pengajian halaqah di televisi Mesir yang dikenal dengan program “Nur ‘Ala Nur”.
Pada tahun 1976 M, beliau dipercayakan oleh presiden Anwar Sadat untuk menjadi menteri Auqaf (menteri agama) Mesir. Namun jabatan tersebut tidak sampai selesai dan hanya 2 tahun saja beliau mengundurkan diri, sebab ketika itu beliau dengan tegas menolak usulan undang-undang keluarga yang bertentangan dengan ajaran syari’at Islam.
              Beliau memang sangat unik, sebab beliau adalah seorang ulama yang tidak menulis buku tapi memiliki puluhan bahkan ratusan buku yang telah diterbitkan, beliau tidak menulis karena meyakini bahwa kalimat lisan lebih tajam dari tulisan, sebab dakwan lisan/ceramah dapat didengar langsung dari narasumber asli. Di samping itu beliau yakini bahwa tidak semua orang mampu membaca, oleh karena prinsip ini, tumpuan dakwahnya fokus kepada penyampaian ceramah dan pengajian.
              Syekh Sya’rawi menjalani kehidupan sufi sebagai bentuk kerendahan diri (tawadhu’). Dalam ruang kerjanya hanya ada sajadah dan al-Qur’an. Namun demikian, pemikiran beliau logis dan kontekstual. Kepiawaiannya mentafsirkan al-Qur’an sesuai dengan perkembangan zaman dan tempat, sehingga beliau mampu memahamkan al-Qur’an kepada jama’ahnya dengan muda berdasarkan realita kehidupan kontemprorer.
Tentunya tidak asing lagi bahwa kitab yang monumental dan penuh manfaat yang ditinggalkan oleh beliau untuk umat Islam pada saat ini, adalah Khawati Sya’rawi atau di kenal dengan nama “Tafsir Al-Sya’rawi”, dalam muqaddimah tafsirnya, beliau menyatakan bahwa: “Hasil renungan saya terhadap al-Qur’an bukan berarti tafsiran al-Qur’an, melainkan percikan pemikiran yang terlintas dalam hati seorang mukmin saat membaca al-Qur’an. Kalau memang al-Qur’an dapat ditafsirkan, sebenarnya yang lebih berhak menafsirkannya hanya Rasulullah Saw, karena kepada beliaulah al-Qur’an diturunkan. Beliau banyak menjelaskan kepada manusia isi ajaran al-Quran dari dimensi ibadah, karena hal itu yang diperlukan umatnya saat ini. Adapaun rahasia al-Qur’an tentang alam semesta, tidak beliau sampaikan, karena kondisi sosio intelektual saat itu tidak memungkinkan untuk dapat menerimanya. Jika hal itu disampaikan akan menimbulkan polemik yang pada gilirannya akan merusak puing-puing agama, bahkan memalingkan umat dalam jalan Allah SWT.
               Salah satu pandangan moderat beliau yang merupakan hasil usaha pemikiran moderasi Islam dan bertujuan sebagai sifat “toleransi sosial” adalah ketika beliau menafsirkan sebuah ayat al-Qur’an dalam surah al-Israa’ ayat 110:
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا
“Katakanlah (wahai Muhammad): Serulah nama "Allah" atau nama "Ar-Rahman", yang mana sahaja kamu serukan (dari kedua-dua nama itu adalah baik belaka); kerana Allah mempunyai banyak nama-nama yang baik serta mulia, Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula terlalu merendahkannya”. al-Israa’: 110.
               Beliau berkata: “Kalau sekiranya mengeraskan suara dilarang dalam shalat, maka tentunya meninggikan suara setinggi-tingginya lebih dilarang dalam agama, seperti menggunakan alat pengeras suara “Microfon”, sebab perbuatan ini akan mengganggu orang disekeliling, bukankah Allah telah nyatakan dalam al-Qur’an:
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Dan apabila dibacakan al-Quran, maka hendaklah kamu semua mendengarnya dan diam, mudah-mudahan kamu semua beroleh rahmat”. al-A’raf: 204
               Ketika anda mengeraskan suara dalam membaca al-Qur’an menggunakan microfon, maka anda secara tidak langsung memaksakan dan mewajibkan diam bagi orang yang mendengarkan bacaanmu, sehingga anda akan membuatkan mereka terganggu, dan jika mereka tidak diam mendengarkan bacaanmu maka anda akan menyeret mereka dalam perbuatan dosa (disebabkan tidak mendengar bacaanmu), bukan itu saja, bahkan anda akan merusak aktiviti orang lain, kemungkinan mereka pada waktu yang sama sedang atau ingin membaca al-Qur’an juga, atau beristighfar, atau bertasbih ataupun shalat. Bagaimana boleh amalan anda yang hanya dianggap mandub dalam syari’at, mampu memaksa dan mengatur amalan orang lain. Sungguh perbuatan ini tidak boleh dilakukan, oleh karena itu janganlah sekali-kali mengganggu ketenangan orang lain, biarkan mereka bebas dengan urusan sendiri untuk berbuat amalan nawafil dan sebagainya, dan jangan menjadi orang yang digambarkan dalam al-Qur’an
(Merasa Baik Perbuatannya, Sementara Tidak Demikian):
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
“Katakanlah: Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka sudah berbuat sebaik-baiknya”. Al-Kahfi :103.
Bagi pandangan beliau, amalan-amalan di atas memang tidak memiliki dasar dalam ajaran syari’at Islam, bahkan beliau nyatakan dengan contoh realita di masyarakat modern saat ini dan berkata dengan tegas: “seperti orang yang menyalakan microfon sebelum masuknya shalat subuh, ia membaca beberapa bacaan nasyid yang tiada dasar dalam agama, akibat perbuatannya, orang disekeliling menjadi terganggu, orang yang sakitpun tidak merasai ketenangan, sesungguhnya orang seperti itu sebenarnya tidak sama sekali memiliki rasa toleransi dan tidak menghiraukan keadaan sekelilingnya, sampai kapankah hal ini berlaku? Sampai kapankah ia sadar tentang hal ini, sementara perbutannya justru menganggu ketenangan manusia, nahkan dapat merusak amalan ibadah orang lain? ...
Sila rujuk:
Tafsir al-Sya’rawi jilid 14/halaman 8815 - 8816.



 Sumber: Catatan oleh Kamaluddin Nurdin Al-Bugisy di Facebook



Manusia Terbaik Adalah Yang Bermanfaat terhadap Yang Lainnya

Rabu, 13 Agustus 2014

Makna di Balik ‘Iqra’ yang Diulang

Makna di Balik ‘Iqra’ yang Diulang

P1250558EDIT
Prof Dr. Nasaruddin Umar ~ (Dewan Penasehat ICMI Pusat ) 
Dalam suasana nuzulul Al Qur’an ini, saya ingin menyampaikan, ada hal yang jarang dibahas dalam kitab tafsir dan diceramahkan. Padahal, menurut hemat saya, ini amat penting. Yaitu mengapa sosok Jibril  menggunakan kalimat perintah tiga kali; iqra, iqra, iqra.  Tidak mungkin sosok seperti Jibril melakukan redundant; mubazir. Pasti tiap titik koma punya makna.

Kosakata Yang Asing 
Rasulullah sendiri juga seperti bingung waktu itu.  Sampai berkata; ma ana biqari. Secara ilmu semantik, qaraah adalah suatu kosakata yang tidak familiar di bangsa Arab waktu itu. Karena qaraah padana dengan kataba. Qaraah artinya membaca kitab suci. Sementara di dunia Arab tidak pernah turun kitab suci. Orang Arab itu kalau qaraah merujuk kepada pembaca kitab suci. Jadi Jibril mengatakan iqra. rasulullah menjawab  ma ana biqari.
Mohon maaf, rasanya tidak bisa diterjemahkan bahwa nabi Muhammad buta huruf hanya karena mengartikan ma ana biqari.  Apa kita bangga dipimpin seroang nabi buta huruf? Orang secerdas seperti itu masa’ membaca saja tidak bisa, hanya karena kita membaca qaraah dalam perspektif modern. Padahal qaraah pada masa nabi adalah suatu bahasa Arab yang tidak familiar bagi orang Arab sendiri. Kecuali talaa  yatluw, `utlu;  membaca. Palestina tempat orang membaca kitab suci, karena hampir semua kitab suci turun di sana. Tidak pernah ada kitab suci turun di jazirah Arab.  Maka Nabi mengatakan; saya bukan bangsa pembaca kitab.
Iqra | ma ana biqari.| … baru yang keempat; iqra bismi rabbilkallazi khalaq. Dalam satu tafsir isyari disebutkan, ternyata iqra pertama artinya how to read. iqra kedua; how to learn. ketiga; how to understand. keempat; iqra bismi rabbiq ; how to elevate. Jadi kalau kita baca Al Qur’an kejar target, sudah berapa juz, itu iqra pertama. Ingat , Jibril memerintahkan, bukan hanya satu kali. Ini juga yang perlu kita perjelas, bahwa ustad kita sering mengatakan iqra; bacalah Al Qur’an. Padahal Al Qur’an belum ada waktu itu.
Jadi yang perlu dibaca, dalam ilmu balaghah. ilmu bahasa Arab, apabila ada fi’il amr tanpa maf’ul/ kalimat perintah tanpa objek. Itu yufidul an;  menunjukkan kepada apapun. Semua harus dibaca,  dan yang tentu harus dibaca adalah segala sesuatu selain Allah adalah ayat. Alam raya ini adalah ayat. Sanurihim ‘ayatina fi-l ‘afaqi wa fii anfusihim. diri kitra juga ayat.  Kita diperingatkan bahwa tidak hanya mampu membaca dalam pengertian how to read and learn, tapi juga bagaimana lebih melibatkan lagi tingkatan kesadaran berikutnya. how to understand. Iqra ketiga ada keterlibatan tidak hanya intelektual tapi juga emosional. Iqra ketiga lebih mendalam lagi, ada  keterlibatan emosi.
Contoh, kita melihat banyak foto. Kita melihat ibunda kita . di antara sekian banyak foto kenapa kita terpana melihat foto ibunda kita? Karena ada iqra ketiga di situ. Sejak beliau pergi, tidak ada lagi air mata tumpah mendoakan aku. Demikian kata anaknya. Kita melihat pohon kelapa. Yang menanam adalah bapak saya. Beliau tidak sempat menikmati buahnya. Sayalah yang menikmatinya. Begitu melihat pohon kelapa itu, dia terharu dan terkesan, bahwa di balik buah yang enak ini ada keringat yg pernah mengucur.
ICMI harus mensponsori, sekarang sedang era revolusi mental, mustahil ada revolusi mental  tanpa ada perubahan metodologi atau epistimologi. Maka itu perlu iqra. Apa yang tadi disampaikan Pak Habibie, kalau dalam ilmu tafsir, ini perlu disyarah, perlu diberikan anotasi. Banyak sekali, singkat tapi sangat padat.  Iqra ketiga ini yang kurang dalam umat islam. Bisanya hanya sampai di iqra kedua.  Maka banyak orang makin pintar tapi makin kurang ajar. Mungkinkah ICMI  menjadi ukuran dalam melihat seorang ilmuwan yang tidak mesti harus menyakiti perasaan orang lain.
Baru sedikit orang yang bisa mencapai iqra ketiga. padahal Jibril sudah memperingatkan kita. Iqra.  Lebih sedikit lagi yang mencapai iqra keempat. Kalau orang sudah sampai ke iqra keempat melibatkan spiritualitas, cinta kasih yang sangat dalam. Maka tidak ada satu pun yang tidak bermakna.  ma halaqta hadza bahtila, dan inilah yang dipegang sesungguhnya oleh ilmuwan kita pada abad pertengahan. Pribadi yang sangat utuh.
P1250571EDIT
Saya berikan satu contoh; Ibn Rusyd.  Kalau membaca Ibn Rusyd kira-kira otaknya seperti Pak Habibie. Dia menulis sebuah buku; bidayatul mujtahid. Kalau ulama fikih pernah membacanya, seperti tidak ada lagi kitab  fikih komprehensif selengkap bidayatul mujtahid. Lupa bahwa buku tersebut ditulis seorang dokter yang menulis buku kedokteran Tidak pernah ada yang menyangka kalau Ibn Rusyd seorang fuqaha. Tapi membaca satu karyanya lagi Fasl al-maqal fi ma bayna hikmal sharia, tidak pernah ada yg menyangka kalau dia seorang dokter. Mungkin dianggap seorang sufi yg sangat hebat. Jadi dia sufi, dokter, dan ahli fiqih.  Prakteknya, kalau pagi hari menjadi qadi, di siang hari jadi filosof, di malam hari dia sufi. Pribadi yang utuh.
Ilmuwan lagi juga sama. Jabir ibn Hayyan dikenal the father of chemistry. Lebih dahulu dia menjadi seorang sufi baru menjadi ahli kimia. Anak nakal sebelumnya.  Hati-hati terhadap anak nakal yang pada masa muda, biasanya bikin kejutan di masa tua. Jadi tidak perlu takut terhadap JIL di masa muda tapi justru ibn Arabi, imam al Ghazali, Hasan Basri , mantan pemikir bebas. Tapi karena faktor umur dan kematangan dia menjadi orang paling hebat. Jadi jangan mengecilkan semangat orang yang mungkin berbeda dengan kita sebagai orangtua. siapa tahu di kemudian hari akan menjadi orang hebat. Jabir mengakui; saya dulu sangat nakal, kasar, keras, tapi di atas sejadah malam kok bisa menangis. Perbuatan cengeng seperti ini. Di siang hari dia merenung, hati yang sangat keras bisa lembut. Dia melihat sebuah bongkahan. Batu yang keras ini kalau diproses dan diasah akan menghasilkan batu mulia dan harganya akan lebih mahal. Diambilnya batu itu, dibelah, diasah, jadi permata. Dia melihat logam ini, kalau kita proses akan menjadi logam mulia, emas. Jadi al kimia yang melahirkan kimia.
Pengetahuan Keilahian
Kelemahan kita  sebagai seorang ilmuwan modern  mungkin karena terlalu cerebral-oriented Akhrinya apa yang terajdi, ilmu selalu kita konotasikan dengan akal. Padahal sesungguhnya, wilayah kita ada divine knowledge. Tiap orang memiliki human knowledge dan divine knowledge. Divine knowledge (pengetahuan keilahian) ada 3 tingkatan. Kalau jatuhnya kepada seorang nabi, maka itu disebut wahyu, 100% benar maka itu disebut haqqul yakin. Kalau  jatuhnya kepada seorang wali, kira-kira 90% benar.  Divine knowledge adalah. tingkat kebenarannnya ainul yakin. Kalau orang seperti kita jangan kuatir, kita juga punya akses untuk ke sumber knowledge namanya ta’lim. Prosentase kebenarannya di atas 80%. Tingkat kebenarannnya ilmul yakin.
Jadi, bapak-ibu sekalian, semua orang punya kemampuan mengakses alam sana. Kita tidak bisa hanya percaya satu alam. Al Fatihah yang selalu kita  baca. Alamin itu jamak. Kalau hanya satu alam; alamun. jadi ada alam syahadah mutlak, alam syahadah relatif, alam ghaib relatif, alam gaib mutlak dan ada yang bukan alam.  Itulah wilayah keilahian wahidiyah dan ahadiyah dalam imu tasawuf.  Orang yang bersih hatinya mampu mengakses alam-alam di atas. Makin tinggi alam itu makin dekat  kepada Allah. Makanya kita baca dalam jami karamatul aulia; alangkah miskinnya seorang ilmuwan kalau gurunya hanya orang hidup. Bahkan ada lagi, alangkah miskinnya seorang murid kalau gurunya hanya manusia biasa. Ternyata ulama kita belajarnya kepada macam-macam. Misal, kita dari sunni,  ihya ulumuddin ditulis di puncak menara masjid damaskus. Ada yg protes, syelkh, banyak sekali hadis di ihya ulumuddin yang saya tidak pernah baca di kitab hadis. Ia menjawab; saya tidak pernah menulis sebuah hadis dalam kitab ihya tanpa konfirmasi dulu kepada Nabi. Rasululullah wafat 622 H, al Ghazali 1111 H.  Ada duaratusan hadis dalam ihya. Berarti bisa duaratusan kali bertemu Nabi hanya satu kitab.
Kata Rasulullah  dalam hadis bukhari muslim, siapa yang bermimpi menjumpai aku, aku betul-betul yang dilihat. Satu-satunya wajah yang tidak bisa dipalsukan iblis adalah wajahku. Itu bukan hanya Imam al Ghazali.  Dalam jami karamatul aulia ada 459 wali di situ. Tidak ada wali songo, saya lihat tidak tahu kenapa. Rata-rata  punya akses ke sumber ilmu pengetahuan.  Jadi betapa dangkalnya ilmu pengetahuan kita kalau menafikan apa yang sekarang ini dipandang enteng.  Astrologi. katanya bidah. Padahal justru kalau kita lihat ada 27 ilmuwan terkemuka pada abad pertengahan mengakuinya. Hanya astrologi mereka tidak seperti astrologi Cina, Romawi/ Eropa dan India. Itu memang syirik. Astrologi islam tidak lain adalah mukasyafah itu sendiri.  Kita tahu kalau orang bersih hatinya mampu memantulkan cahaya  dari yang Maha Bercahaya.
Jadi sumber pengetahuan dalam Islam ada enam. Sementara Barat hanya akumulasi deduktif keilmuwan itu. kita percaya mimpi sebagai sumber ilmu pengetahuan. Kalau tidak meyakininya, berarti  sebagian ajaran Islam hilang. Wajib hukumnya menyembelih domba saat idul adha dasarnya mimpi. Aku melihat engkau dalam mimpi, aku menyembelih engkau. Kalau menolak mimpi, sebagian ajaran islam  hilang. Dalam Islam ada 5 tingkatan mimpi.Ada yg disebut al hilm; anak remaja yang bermimpi basah; hilmun. Ada lagi manamats; mimpi para nabi. sama dengan wahyu. Ada lagi ru’ya sadiqa; beberapa wali termasuk Nabi Yusuf menggunakan istilah tersebut.
P1250598EDIT
Ada lagi yang disebut waqiiyat, para suluk, pemimpin tarekat tempo dulu. Betul-betul sangat bersih hatinya. Dalam satu kitab kuning. suhra wardi. ‘pak kiyai habis perbekalan ini, setelah tadabur ke gunung. Kita berdoa. Antara tidur dan tidak, dia diperlihatkan, pergilah ke bawah pohon gali di situ ada bungkusan  jubah warna hijau. Hati-hati karena di dalam kantungnya ada keping-keping emas.  Para santri menggali dan benar ada. Kalau kebetulan hanya ada 2-3. Kalau ada ribuan pasti  bukan kebetulan. kalau ini ditiadakan, berarti besar sekali kerugian umat Islam.
Karena itu, bapak-ibu sekalian, kita menuntut ilmu terlalu otak- oriented. Akhirnya kita lihat sekarang apa yang terjadi. divine  knowledge tidak diminati orang.  Padahal diakui atau tidak, pengakuan yang cerdas tiba-tiba muncul dalam benak kita bukan punya kita tapi Allah. Ada dua macam pengetahuan; melalui olah nalar bahasa arabnya ilmun.  Ada olah batin; ma’arifah. ilmun sedikit tapi hikmah dahsyat luar biasa. Unlimited. Tanpa batas. “Yu‘-til-hikmata man yasyaa-u waman yu’tal-hikmata fa qad uutiya khairan katsiiran” . “Allah memberikan kebijaksanaan (hikmah) kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan orang yang diberikan Allah kebijaksanaan itu, sesungguhnya telah diberi kebaikan yang banyak” (QS:Al Baqarah 269) .
Terakhir saya ingin menyimpulkan sudah saatnya ICMI mempromosikan suatu metodologi keilmuwan yang bisa mengeksplor kembali nilai-nilai luhur kita.  Nilai-nilai Al Qur’an itu sendiri. Terlalu banyak kerugian kalau kita menafikan sumber-sumber ilmu pengetahuan  disebutkan tadi, termasuk intuisi yang dipelihara akan sangat tajam. Mintalah pandangan terhadap hati. Tapi bagaiman hati yang tidak pernah terawat bisa dimintai pandangan, karena hati-hati, iblis sekarang bisa menyamar menggunakan jubah malaikat. Sebaliknya malaikat juga kadang menggunakan jubah iblis untuk menguji kita.
Saya akan menutup dengan hadis; suatu saat Abu Hurairah, pemegang kunci baitul maal diperingatkan Rasulullah, hati-hati nanti malam akan datang pencuri. lewat tengah malam. Muncul dan ditangkap. Ia lalu memohon; maaf saya terpaksa mencuri karn orang yua dan anak saya sakit. dilepas. Kata Rasulullah nanti malam akan datang pencuri baru. Begadang. Akhirnya ditangkap lagi. Singkatnya beriba-iba lagi terhadap Abi Hurairah.
Sampai malam ketiga masih ada pencuri yang datang dan ditangkap mengatakan; terima kasih abu hurairah, dua malam berturut-turut engkau melepaskan aku. Sekarang engkau akan menyerahkan ke pengadilan, mungkin saya akan dieksekusi, tapi sebelumnya saya akan meghibahkan kepadamu tanda terima kasih. Apa itu? saya akan mengajari engkau wirid. Kalau engkau membacanya kamu tidak akan pernah bisa digoda oleh iblis. dan kalau engkau baca setan dan iblsi lari terbiritbirit sampai mentok ke ujung laingit. Tertarik abi hurairah. Bacalah ayat kursi. Jadi iblis ini yang menyamar sebagai pencuri fasih sekali membaca ayat kursi.  Yang kita pelajari. justru iblis fasih membacanya. Sekarag susah membedakan mana iblis mana malaikat.

Tausiyah Ramadhan di kediaman Ketua Dewan Kehormatan ICMI, Prof Dr -Ing. BJ Habibie (14/7/14)

Sumber: https://sitarlingicmi.wordpress.com/2014/08/13/pengetahuan-keilahian/ 








Manusia Terbaik Adalah Yang Bermanfaat terhadap Yang Lainnya

Rabu, 29 Mei 2013

REKOMENDASI DAN HIMBAUAN MUSYAWARAH KERJA NASIONAL ULAMA AL-QUR'AN

Serang-Banten, 21 – 24 Mei 2013

Tema: “Al-Qur’an di Era Global; Antara Teks dan Realitas”

Dalam upaya mensosialisasikan dan mendapatkan masukan atas produk hasil kajian Tafsir Tematik dan Tafsir Ilmi yang diterbitkan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, dan untuk membahas berbagai persoalan aktual yang terkait dengan tafsir Al-Qur'an, serta menggali ide-ide untuk pengembangan pengkajian dan pengamalan Al-Qur`an di tengah masyarakat Indonesia, Kementerian Agama RI, melalui Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an (LPMA) Balitbang Kemenag RI, telah menyelenggarakan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Ulama Al-Qur'an, pada tanggal 21 – 24 Mei 2013, di Hotel Le Dian Serang Banten. Mukernas yang diikuti oleh 120 peserta yang terdiri dari para ulama, akademisi dan peneliti Al-Qur`an selama empat hari itu mengambil tema “Al-Qur'an di Era Global: Antara Teks dan Realitas”.
Mukernas Ulama Al-Qur`an dibuka secara resmi oleh Bapak Menteri Agama RI, Dr (HC) H. Suryadharma Ali yang dalam kesempatan pembukaan memberikan pengarahan. Para peserta Mukernas sepakat untuk menetapkan beberapa butir penting dari pengarahan Bapak Menteri Agama sebagai pertimbangan utama. Butir-butir tersebut adalah:
1. Untuk menjamin ketersediaan kitab suci yang shahih, Pemerintah telah berupaya sungguh-sungguh untuk memastikan agar tidak ada kesalahan, sekecil apa pun, di dalam mushaf yang beredar di Indonesia. Oleh karenanya, bila ditemukan kesalahan dalam mushaf Al-Qur`an yang beredar agar segera melaporkan kepada Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an.
2. Seiring dengan semakin kompleksnya tantangan kehidupan yang begitu sangat dinamis, masyarakat Muslim Indonesia membutuhkan pemahaman yang mendalam terhadap Al-Qur`an. Semangat keberagamaan masyarakat yang dirasa semakin meningkat hendaknya juga diimbangi dengan pengetahuan dan tradisi ilmiah yang kuat. Oleh karenanya, Kementerian Agama menaruh perhatian yang besar terhadap keberadaan terjemah dan tafsir Al-Qur’an dengan mengusahakan penyusunan terjemah maupun tafsir Al-Qur’an dengan berbagai variannya.
3. Keragaman masyarakat Indonesia dari segi agama, budaya, suku dan etnis, menuntut adanya pemahaman yang moderat agar tercipta kerukunan dan keharmonisan. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk, dan telah bertekad untuk hidup bersama dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang menghargai kebhinekaan, maka sepatutnya kita mengembangkan kehidupan keagamaan yang memahami realitas masyarakat, terbuka terhadap pandangan lain yang berbeda dan menghormatinya serta mengedepankan skala prioritas dalam membangun masyarakat.
4. Seluruh komponen bangsa, terutama para ulama, akademisi dan cendekiawan Muslim, agar bekerjasama dalam membangun ketahanan pemikiran dan pemahaman keagamaan (al-amnu al-fikriy) bagi masyarakat dalam menghadapi arus globalisasi yang menyangkut berbagai paham dan budaya, melalui pendidikan agama dan keagamaan yang berkualitas. Kementerian Agama sangat berkepentingan dengan terbangunnya ketahanan pemikiran dan pemahaman keagamaan masyarakat, sebab pembangunan nasional akan berhasil antara lain dengan membangun kehidupan keagamaan yang berkualitas.
5. Para ulama hendaknya dapat membimbing umat dalam mewujudkan kehidupan keagamaan yang rukun, damai dan harmonis, melalui pemahaman dan pengamalan nilai-nilai agama secara proporsional, jauh dari sikap al-ghuluww (ekstrim) yang ditandai antara lain dengan fanatisme yang berlebihan, cenderung mempersulit orang dalam beragama, berprasangka buruk terhadap orang lain dan menganggap hanya dirinya yang baik dan benar, sehingga tidak terbuka terhadap pandangan lain yang berbeda.
Selanjutnya, para peserta Mukernas mengkaji dan membahas 5 buku tafsir tematik dan 3 buku tafsir ilmi, dan mendiskusikan tema “Al-Qur`an di Era Global; Antara Teks dan Realitas”, dengan menyoroti tiga aspek; 1) Upaya tafsir Al-Qur'an Indonesia menjawab tan¬tangan zaman; 2) Pembelajaran Al-Qur'an di tengah masyarakat Indo¬nesia; 3) Mushaf Al-Qur'an: rasm, qirâ’ât, dan sejarah penya¬linan dan pencetakannya. Dari hasil kajian dan diskusi tersebut, dan mengingat pertimbangan utama dari pengarahan Bapak Menteri Agama, para peserta Mukernas menyampaikan rekomendasi sebagai berikut :
1. Memberikan apresiasi penuh terhadap upaya Kementerian Agama RI dalam meningkatkan kualitas kehidupan umat beragama melalui pemahaman kitab suci secara baik dan benar dengan menyusun dan menerbitkan Tafsir Tematik dan Tafsir Ilmi.
2. Memberikan dukungan kepada Kementerian Agama RI untuk keberlangsungan kegiatan penyusunan Tafsir Al-Qur`an dengan berbagai pendekatan, dengan melibatkan para ulama dan pakar yang berlatar belakang keahlian ilmu berbeda dalam sebuah atau beberapa tim kerja yang saling melengkapi.
3. Memberikan saran, masukan dan catatan dari forum Musyawarah Kerja Nasional Ulama Al-Qur’an untuk menjadi bahan penyempurnaan Tafsir Tematik dan Tafsir Ilmi pada edisi berikutnya.
4. Mendorong Kementerian Agama RI untuk mensosialisasikan karya-karya Tafsir Tematik dan Tafsir Ilmi setelah dilakukan perbaikan dan penyempurnaan berdasarkan masukan para peserta Musyawarah Kerja Nasional Ulama Al-Qur’an. Perbaikan dan penyempurnaan dimaksud meliputi:
a. Aspek redaksional dengan memaksimalkan proses editing serta mekanisme kontrol kualitas.
b. Aspek substansi terkait dengan tema yang dibahas.
c. Konsistensi penulisan, baik dalam hal sistematika, metodologi, transliterasi, penulisan istilah, dan sitasi.
5. Memperkuat jaringan kerja sama antara pakar Al-Qur'an dan ilmu pengetahuan, baik personal maupun institusional, sehingga proses kajian tafsir Al-Qur`an semakin mendalam dan komprehensif. Untuk itu, para peserta Mukernas mendorong agar Perguruan Tinggi Agama Islam mengembangkan kajian Al-Qur`an dengan pendekataan saintifik, misalnya yang menyangkut aspek kesejarahan dalam penjelasan kisah Al-Qur`an, melalui pembukaan program studi “Arkeologi Qur`ani”.
6. Menghimbau kepada masyarakat luas agar dalam memahami Al-Qur’an tidak hanya berpegang pada terjemahan Al-Qur’an mengingat keterbatasan yang dimiliki oleh setiap terjemahan. Oleh karenanya, pemerintah perlu menerbitkan karya tafsir yang mudah dipahami dan dijangkau oleh semua lapisan masyarakat. Upaya Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an untuk menyusun tafsir ringkas, melengkapi terjemah dan tafsir yang sudah ada, perlu didukung.
7. Membuat langkah-langkah strategis guna meningkatkan pemahaman yang moderat dan komprehensif terhadap Al-Qur'an dalam menjawab tantangan globalisasi, dan meningkatkan peran serta dan kerja sama antara umara dengan ulama dalam memasyarakatkan pemahaman Al-Qur'an yang komprehensif dan moderat.

Menyikapi kegiatan penerbitan Al-Qur`an di Indonesia yang berkembang dengan sangat dinamis, seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat Muslim terhadap mushaf Al-Qur`an dan produk-produk yang terkait dengannya, seperti terjemah, tafsir dll, dan semakin bertambahnya kemudahan dalam proses penerbitan dan peredaran akibat kemajuan di bidang teknologi informasi dan transportasi, para peserta Mukernas menyampaikan himbauan sebagai berikut :
1. Perlunya sistem penjaminan mutu yang terintegrasi, sehingga dalam proses penerbitan, percetakan dan peredarannya tidak ditemukan kesalahan dan hal-hal lain yang dapat mengurangi kesucian Al-Qur`an.
2. Perlu dilakukan usaha menjaga kesucian Al-Qur`an secara komprehensif, mulai dari proses penyiapan naskah, sampai dengan pentashihan, percetakan dan distribusinya di tengah masyarakat, dengan melibatkan unsur Pemerintah dan masyarakat.
3. Perlu adanya standardisasi penerbitan, percetakan dan peredaran Mushaf Al-Qur`an di Indonesia, sehingga stakeholders (masyarakat, pemerintah dsb) memperoleh pelayanan yang memuaskan.
4. Diperlukan regulasi Pemerintah yang lebih komprehensif dan lebih tegas yang mengatur, mengendalikan dan mengawasi penerbitan, percetakan dan peredaran Al-Qur’an demi menjaga kesucian dan kehormatan kitab suci Al-Qur`an.
5. Kepada para pihak yang terlibat dalam penerbitan dan peredaran mushaf Al-Qur’an, hendaknya;
a. mempunyai niat yang ikhlas untuk menyebarkan misi keagamaan (dakwah) Islam, dan tidak semata-mata untuk memperoleh keuntungan duniawi;
b. mendahulukan kepentingan keagamaan di atas kepentingan bisnis;
c. memegang teguh etika dalam memperlakukan lembaran-lembaran mushaf, baik sebelum maupun setelah dicetak;
d. berpegang pada prinsip kehati-hatian dalam rangka menjaga kesucian kitab suci, mengingat kesalahan dalam penerbitan mushaf Al-Qur`an, sekecil apa pun, berpotensi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat, karena terkait dengan hal yang paling mendasar dalam kehidupan umat beragama.

Serang, 24 Mei 2013

Tim Perumus :
1. Prof. Dr. H. Umar Anggara Jenie, Apt., M.Sc. (Ketua)
2. Dr. Muchlis M Hanafi, MA (Sekretaris)
3. Prof. Dr. H. Heri Haryono (Anggota)
4. Prof. Dr. H. Syibli Sardjaya (Anggota)
5. Prof. Dr. H. Huzaimah T Yanggo (Anggota)
6. Prof. Dr. H. Darwis Hude (Anggota)
7. Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, MA (Anggota)


Manusia Terbaik Adalah Yang Bermanfaat terhadap Yang Lainnya

Rabu, 09 Januari 2013

AGH Daud Ismail, Penerjemah Alquran ke Bahasa Bugis (4-habis)


Tafsir al-Munir, Sebuah MahakaryaAGH Daud Ismail memang dikenal gemar menulis. Sejumlah kitab pun dihasilkannya. Salah satunya, yang dianggap sebagai mahakarya ulama Bugis ini adalah “Kitab Tafsir al-Munir”.

Kitab tafsir Alquran 30 juz ini ditulis dalam bahasa Bugis dan telah dicetak serta disebarkan kepada masyarakat, khususnya masyarakat Bugis. Kitab ini merupakan salah satu dari sembilan karya ulama besar kelahiran Soppeng ini.

Delapan karya lainnya adalah Riwayat Hidup AG Kyai Haji Muhammad As’ad (Gurutta Sade) yang ditulis dalam tiga bahasa, yakni Bugis, Indonesia, dan Arab, kemudian Pengetahuan Dasar Islam yang terdiri atas 3 jilid; Hukum Puasa; Hukum Shalat; Hukum Nikah; Kumpulan Khutbah Jumat; Kumpulan Doa-Doa; dan Fatwa-Fatwa.

Sulaiman Ibrahim, dosen tafsir di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo, dalam salah satu artikelnya menilai, Tafsir al-Munir berperan besar dalam memberikan pemahaman Alquran kepada masyarakat lokal.

Menurut Sulaiman, ada dua alasan yang membuat Daud Ismail mempergunakan bahasa Bugis dalam kitab Tafsir al-Munir. Pertama, kata dia, Daud Ismail berada di tengah masyarakat Bugis, tempat bahasa tersebut sangat dominan digunakan oleh masyarakat. “Sehingga, karyanya lebih mudah dipahami oleh masyarakat setempat,” tulisnya.

Pertimbangan kedua, usaha dari Daud Ismail ini menjadi jalan penting untuk melestarikan bahasa dan lontara (aksara) Bugis. “Adanya tafsir Alquran ini, memegang peranan penting dalam kehidupan keagamaan, terutama bagi suku Bugis,” kata Sulaiman.

Dalam pandangan Sulaiman, kehadiran kitab Tafsir al-Munir menjadi sangat penting mengingat perkembangan penafsiran Alquran di Indonesia berbeda dengan di dunia Arab.

Perbedaan tersebut terutama disebabkan oleh perbedaan latar belakang sosial budaya, geografis, dan bahasa. “Dalam konteks itulah, kehadiran sebuah tafsir bahasa daerah, dalam hal ini bahasa Bugis, sangat diperlukan,” pungkas Sulaiman.


Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/13/01/08/mgahkv-agh-daud-ismail-penerjemah-alquran-ke-bahasa-bugis-4habis

Manusia Terbaik Adalah Yang Bermanfaat terhadap Yang Lainnya


AGH Daud Ismail, Penerjemah Alquran ke Bahasa Bugis (3)

Anregurutta, Gelar KehormatanSuku Bugis umumnya berdiam di Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah.

Meski demikian, suku ini juga menyebar ke berbagai daerah di Nusantara. Dalam tradisi masyarakat Bugis, gelar Anregurutta dapat diibaratkan sebagai profesor di dunia akademik.

Meski demikian, seperti dijelaskan dalam situs resmi Nahdlatul Ulama, gelar Anregurutta bukanlah pemberian gelar akedemik, melainkan pengakuan yang timbul dari masyarakat atas ketinggian ilmu, pengabdian, dan jasa seseorang dalam dakwah keislaman.

Tak semua yang mengajar agama dipanggil sebagai Anregurutta, bergantung pada tingkat keilmuannya. Selain itu, masyarakat Bugis juga meyakini adanya kelebihan yang dimiliki Anregurutta, yakni berupa karomah, dalam bahasa Bugis disebuti makarama.

Para mubalig, meski memiliki pengetahuan keislaman cukup luas, belum tentu disebut Anregurutta. Banyak di antara mereka yang tetap dipanggil ustaz. Mereka dianggap mampu membawakan khutbah dan ceramah di masyarakat, namun belum bisa dijadikan rujukan bertanya mengenai berbagai masalah keagamaan.

Sementara itu, Anregurutta biasanya dijadikan tempat bertanya tentang berbagai masalah keagamaan dan kehidupan secara umum.

Nah, salah satu pejuang dakwah di Tanah Bugis yang mendapat gelar Anregurutta adalah Daud Ismail. Dialah sosok ulama besar yang berperan penting dalam pengembangan syiar Islam di Sulawesi Selatan.



Manusia Terbaik Adalah Yang Bermanfaat terhadap Yang Lainnya

AGH Daud Ismail, Penerjemah Alquran ke Bahasa Bugis (1

REPUBLIKA.CO.ID, Bagi masyarakat Bugis, Anregurutta Haji (AGH) Daud Ismail mengukir jasa besar yang tak bisa dilupakan.

Jasa yang tak akan terlupa itu adalah usahanya menerjemahkan dan menafsirkan 30 juz Alquran ke dalam bahasa Bugis.

Rasanya, inilah puncak pencapaian AGH Daud Ismail sebagai ulama besar yang pernah lahir di Sulawesi Selatan.

“Penulisan tafsir Alquran 30 juz di Indonesia masih terbilang langka. Kalaupun ada, biasanya hanya ditulis oleh orang yang tidak sembarangan,” tulis Sulaiman Ibrahim, dosen tafsir di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo dalam sebuah artikelnya yang berjudul “Lokalitas Tafsir Bahasa Bugis: Telaah atas Metodologi Tafsir Anre Gurutta Daud Ismail”.

AGH Daud Ismail terlahir di Soppeng pada 30 Desember 1908. Ia adalah putra dari pasangan H Ismail bin Baco Poso dan Hj Pompola binti Latalibe. Dari 11 bersaudara, ia adalah anak bungsu dan satu-satunya anak lelaki.

Ayahnya dikenal sebagai khatib di Distrik Soppeng. Sang ayah memiliki panggilan lain Katte’ Maila (Ismail). Orang tua Daud Ismail juga dikenal sebagai guru mengaji Alquran di Desa Cenrana. Rupanya, darah mengajar dari orang tuanya itulah yang mengalir deras dalam diri Daud Ismail.

Selain menafsirkan dan menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Bugis, AGH Daud Ismail juga berjasa besar mendirikan Yayasan Perguruan Islam Beowe (YASRIB) yang di dalamnya terdapat pesantren. Ia juga membuka Madrasah Muallimin pada 1967.

Semua pencapaian besar ini diraih melalui proses otodidak. Proses itu diawali dari hasil belajar Alquran kepada ayahnya sewaktu masih kecil di kampung. Selepas menimba ilmu di rumah, ia melanjutkan pendidikan ke pesantren di Sengkang.

Lalu, pada 1925- 1929, ia mulai mempelajari kitab qawaid di Lapasu Soppeng Riaja. Tempat ini berjarak sekitar 40 km dari kota Parepare. Di tempat ini, ia menimba ilmu dari ulama besar bernama Haji Daeng dan Qadhi Soppeng Riaja.


Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/13/01/08/mgagfm-agh-daud-ismail-penerjemah-alquran-ke-bahasa-bugis-1
Manusia Terbaik Adalah Yang Bermanfaat terhadap Yang Lainnya

Jumat, 28 Desember 2012

Menag: Terjemahan Al Qur’an Dalam Bahasa Lokal Memiliki Peran Penting dan Strategis

Jakarta, (19/12) – Dengan jumlah penduduk lebih dari 241 juta jiwa, 1.128 suku bangsa dan ratusan bahasa lokal membuat Indonesia begitu heterogen.  Dari data tersebut, dicermati bahwa banyak diantaranya tidak mampu berkomunikasi dalam bahasa Indonesia,  namun mereka masih bertutur dalam bahasa lokal.
Dalam acara Launching Thesaurus Manuskrip Keagamaan Nusantara dan Terjemahan Al Quran Bahasa Makassar-Kaili dan Sasak, di auditorium Kemenag Jl.MH.Thamrin No.6, Jakarta, Rabu (19/12), Menteri Agama Suryadharma Ali menilai bahwa terjemahan Al Qur’an dalam bahasa lokal memiliki peran penting dan strategis paling tidak terjemahan dapat memberikan beberapa manfaat yaitu pertama berupa layanan keagamaan lokal sehingga meningkatkan pemahaman dalam bidang agama.  Kedua, terjemahan memainkan peran dalam pelestarian budaya lokal sehingga budaya lokal tersebut terpelihara dan terjaga nilai-nilai luhurnya.
Berkaitan dengan bahasa lokal, upaya Badan Litbang dan Diklat melalui Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan patut diacungi jempol.  Selain berperan dalam meningkatkan pemahaman isi Al Qur’an, terjemahan dalam bahasa lokal juga turut melestarikan identitas kesukuan karena daerah yang kehilangan bahasa lokalnya otomatis kehilangan identitas kesukuannya.  (RPS)

 Sumber: http://balitbangdiklat.kemenag.go.id


Manusia Terbaik Adalah Yang Bermanfaat terhadap Yang Lainnya

Selasa, 25 Desember 2012

HERMENEUTIKA TEKS; Sebuah Tawaran Metode Tafsir al-Qur’an


Oleh: Sulaiman Ibrahim

Abstrak
Hermeneutika al-Qur’an adalah suatu penafsiran rasional “bebas terkendali” dalam rangka memahami al-Qur’an dengan kontekstual. Walaupun Hermeneutika sebuah metode dari Barat, tetapi bukan berarti tidak bisa dipakai untuk manafsirkan sebuah teks al-Qur’an. justru hal ini membuahkan sebuah ilmu dan seni membangun makna melalui interpretasi rasional

Kebutuhan Sebuah Penafsiran
Sepanjang  berkaitan dengan ilmu pengetahuan, tidak ada teks yang sakral. Sebab ilmu pengetahuan berkembang dengan cara mengkritik yang lama dan melahirkan yang baru. Sakralisasi teks mungkin diperlukan oleh orang awam supaya tidak bingung, sebagaimana mereka perlu pemimpin, apabila tidak ada pemimpin mungkin pemandu, yaitu teks-teks. Tapi ketika sudah dewasa, orang harus tahu bahwa sakralisasi bisa mempersempit Islam itu sendiri.[1]
Modernisme Islam atau pembaharuan dalam Islam selama ini dipahami sebagai upaya untuk menyesuaikan paham-pahaDm keagamaan Islam dengan dinamika dan perkembangan baru yang timbul atau ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi moderen. Atau, yang dimaksud dengan modernisme Islam adalah upaya memperbarui penafsiran, penjabaran dan cara-cara pelaksanaan ajaran-ajaran dasar dan petunjuk-petunjuk yang terdapat dalam al-Qur’an dan Hadis sesuai dan sejalan dengan perkembangan situasi dan kondisi masalah yang dihadapi.[2]
Dalam sejarah perkembangan modernisme Islam terdapat suatu gagasan utama yang selalu dicetuskan oleh oleh para tokoh pembaru, modernis, yaitu kembali kepada al-Qur’an dan Hadis. Muhammad Abduh, misalnya, dengan serius mengajak untuk kembali kepada al-Qur’an dan berpegang teguh dengannya, dan perlunya penafsiran/interpretasi baru terhadap ajaran-ajaran dasar Islam, sesuai dan sejalan dengan tuntunan dan perkembangan zaman.[3]3 Sehubungan dengan gagasan utama modernisme Islam, semua pihak, terutama tokoh-tokoh modernis, sepakat dan antusias untuk mengoperasionalisasikan dan melaksanakannya. Mengingat perlunya penafsiran atau interpretasi baru terhadap ajaran-ajaran dasar Islam, khususnya al-Qur’an, maka mau atau tidak mau terlibatlah apa yang disebut tafsir.
            Al-Qur’an, sebagaimana diyakini umat Islam, adalah kalam Tuhan yang menyimpan segala petunjuk dan ajaran-Nya, yang meliputi segala aspek kehidupan manusia yang umumnya diungkap dalam bentuk dasar-dasarnya. Dan tafsir dipandang dari segi eksistensinya yang sangat melekat dengan al-Qur’an sungguh amat penting dan utama. Kepentingan dan keutamaan tafsir amat terasa apabila dihubungkan dengan keharusan umat Islam untuk memahami kandungan atau makna ajaran-ajaran al-Qur’an. Memahami segala kandungan al-Qur’an  merupakan perintah Allah Swt. (QS. 38: 29) dan (QS. 4: 82).
            Demikian penting upaya memahami dan merenungkan kandungan ayat-ayat al-Qur’an, demi mendapatkan pelajaran-pelajaran berharga darinya. Untuk sampai pada tingkat pengamalan dan pelaksanaan segala petunjuk, ajaran dan aturan serta norma al-Qur’an tidaklah mudah, kecuali setelah memahami dengan sebaik-baiknya segala nasehat dan petunjuk al-Qur’an, serta menghayati prinsip-prinsip ajarannya, karena semua itu termuat dalam kemasan bahasa Arab yang beruslub tinggi. Hal ini menurut al-Zarqani, jelas diperlukan tafsir. Tanpa tafsir, tidak akan diperoleh apa-apa yang terkandung dalam khazanah al-Qur’an.[4]
            Dalam rangka penafsiran baru al-Qur’an sesuai dengan konteks kekinian dan kemoderenan zaman, tafsir yang lebih diperlukan ialah tafsir yang bercorak rasional, yaitu tafsir yang disebut dengan istilah tafsir al-Qur’an bi al-ra’y (dengan menggunakan akal) atau tafsîr al-Ijtihâd.[5] Di samping itu diperlukannya perpaduan antara pemikiran-pemikiran yang memberi interpretasi pada wahyu (tafsir bi al-Ma’tsur)[6], dengan interpretasi rasional “liberal” dalam hal ini “hermeneutik”.[7]


[1]Komaruddin Hidayat, Wahyu di Langit Wahyu di Bumi, Doktrin dan Peradaban Islam di Panggung Sejarah, (Jakarta: Penerbit Paramadina, 2003) h. 118
[2]Rif’at Syauqi Nawawi, Rasionalitas Tafsir Muhammad Abduh, Kajian Masalah Aqidah dan Ibadat, (Jakarta: Penerbit Paramadina, 2002) cet I, h. 5

[3]Rif’at Syauqi Nawawi, Rasionalitas Tafsir Muhammad Abduh, Kajian Masalah Aqidah dan Ibadat, (Jakarta: Penerbit Paramadina, 2002) cet I, h. 5

[4]Abd al-‘Azhim al-Zarqani, Manâhil al-Irfân fi al-‘Ulûm al-Qur’ân, (Mesir: Musthafa al- Babi al-Halabi, tth.) jilid II, h. 6

[5]Abd al-‘Azhim al-Zarqani, Manâhil al-Irfân fi al-‘Ulûm al-Qur’ân, h. 11

[6] Menurut al-Dzahabi al-tafsîr bi al-ma’tsûr adalah penjelasan terhadap ayat-ayat al-Qur’an dengan menggunakan: (a) ayat-ayat al-Qur’an, (b) riwayat yang berasal dari Rasulullah Saw. (c) riwayat dari sahabat, dan (d) riwayat dari para tabi’in. Lihat Al-Dzahabi, I, h. 152.
[7]Hermeneutika adalah ilmu yang mencoba menggambarkan bagaimana sebuah atau satu kejadian dalam waktu dan budaya lampau dapat dimengerti dan menjadi bermakna secara eksistensial dalam situasi kita sekarang. Ini melibatkan aturan metodologis yang diterapkan dalam penafsiran maupun asumsi-asumsi epistimologis tentang  pemahaman. Hermeneutika mengasumsikan bahwa setiap orang mendatangi teks dengan membawa persoalan dan harapan sendiri, dan adalah masuk akal untuk menuntut  penafsir menyisihkan subjektivitas dirinya dan menafsirkan suatu teks tanpa pemahaman dan pertanyaan awal yang dimunculkannya. Lihat Farid Esack, Membebaskan Yang Tertindas Al-Qur’an, Liberalisme, Pluralisme. Terjemahan dari: Qur’an, Liberation & Pluralism: An Islamic Perspective of Interreligious Solidarity against Oppression. Penerjemah: Watung A. Budiman. (Bandung: Mizan Media Utama, 2000), h. 83.

Ingin mendapatkan Artikel di atas silahkan hubungi Email: emand_99@hotmail.com

Manusia Terbaik Adalah Yang Bermanfaat terhadap Yang Lainnya