Email: tafsirhadits@ymail.com / emand_99@hotmail.com

Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label Sulawesi Selatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sulawesi Selatan. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Mei 2013

Mengenal Ajatappareng, Kerajaan-kerajaan Bugis Di Barat Danau

KABARKAMI. Ajattappareng atau yang pada masa lampau dikenal dengan nama “Tanah di Barat Danau adalah wilayah geographis dalam istilah politiknya berhubungan dengan bentuk persekutuan konfederasi lima kerajaan Bugis yang terletak pada barat dan utara danau Tempe dan Sidenreng di semenanjung barat daya Sulawesi Selatan. Kerajaan Ini antara lain Sidenreng, Sawitto, Suppaq, Rappang dan Alitta. Kelima kerajaan Ajattappareng ini berjaya sekitar tahun 1700-an dengan hasil bumi yang melimpah sehingga pada akhirnya menjadi rebutan bagi kerajaan-kerajaan besar yakni kerajaan Luwu, kerajaan Bone dan kerajaan Gowa. Dalam persaingan ini kerajaan Gowa akhirnya berhasil mengintervensi sistem pemerintahan dan menjadikan persekutuan lima kerajaan Ajatappareng ini di bawah perlindungannya.

Saat ini, wilayah kerajaan Ajatappareng dibagi menjadi empat kabupaten dan satu kota madya. Sawitto, Alitta dan bagian utara-tengah Suppaq yang sebagian besar menjadi kabupaten Pinrang, yang sebelumnya telah didiami bagi sejumlah pemukiman yang bukan bagian dari wilayah kerajaan Ajattappareng sebelum tahun 1600. Pemukiman ini termasuk Batu Lappaq, Kassaq dan Letta, yang dulunya bagian dari konfederasi Massenrempulu yang dikenal dengan nama Lima Massenrempulu (lima tanah di tepi pegunungan), dan sejumlah pemukiman independen kecil lainnya antara lain Supirang, dihuni oleh orang-orang dengan bahasa, budaya dan etnis yang terkait dengan Mamasa-Toraja. Sementara Letta berada di bawah yurisdiksi Sawitto setelah diserang oleh kerajaan Boné pada tahun 1685 karena membunuh utusan kerajaannya.

Memasuki abad kedua puluh, Belanda menempatkan Batu Lappaq dan Kassaq dalam wilayah teritorial kabupaten Pinrang, bersama dengan Sawitto, Alitta dan bagian utara-tengah Suppaq. Nama Pinrang dipilih oleh Belanda sebagai tanah persetujuan berasal dari anak sungai kecil di Sawitto. Bagian selatan Suppaq dengan pusatnya sekarang terletak di kota madya Parepare dan ujung utara kabupaten Barru yang merupakan wilayah sisa anak sungai dari Suppaq yang terletak pada bagian utara kabupaten Barru. Sebagian besar wilayah Sidenreng dan Rappang menjadi kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). Salah satu wilayah bekas anak sungai Sidenreng yaitu Maiwa, sebagai wilayah yang terbesar dan paling selatan dari lima kecamatan membentuk kabupaten Enrekang.

Wilayah Ajattappareng secara geografis merupakan perpaduan wilayah dari etnis yang beragam, meliputi dataran subur yang luas di bagian selatan dan tengah, daerah pegunungan di bagian utara dari Sidrap dan Pinrang. Beberapa wilayah dibagian selatannya adalah yang paling produktif di pulau Sulawesi sebagai daerah pesawahan yang tumbuh subur yang hanya bisa ditemukan di wilayah ini. Pertanian merupakan pekerjaan utama bagi sebagian besar penduduknya dan diperkirakan telah ada selama berabad-abad. Manuel Pinto, seorang petualang asal Portugis yang pernah menetap di Sidenreng pada tahun 1540-an, menyatakan bahwa daerah ini sangat kaya akan beras dan bahan makanan lainnya. Hingga saat ini, Sidrap dan Pinrang adalah dua produsen pertanian di Sulawesi Selatan yang memproduksi hasil beras terbesar di Asia Tenggara. (sumber: Stephen C. Druce / Widya Ningsih)



dikutip dari: http://www.kabarkami.com/mengenal-ajatappareng-kerajaan-kerajaan-bugis-di-barat-danau.html

Manusia Terbaik Adalah Yang Bermanfaat terhadap Yang Lainnya