Email: tafsirhadits@ymail.com / emand_99@hotmail.com

Powered By Blogger

Kamis, 11 April 2013

FORMAT BARU DALAM PEMBELAJARAN AL-QURAN DI TENGAH MASYARAKAT

Fenomena yang terjadi di masyarakat kita, terutama di rumah-rumah  keluarga muslim semakin sepi dari  bacaan ayat-ayat suci al-Qur’an. Hal ini disebabkan karena terdesak dengan munculnya berbagai produk sains dan teknologi serta derasnya arus budaya asing yang semakin menggeser minat untuk belajar membaca al-Qur’an sehingga banyak anggota keluarga tidak bisa membaca al-Qur’an. Akhirnya kebiasaan membaca al-Qur’an ini sudah mulai langka. Keadaan seperti ini adalah keadaan yang sangat memprihatinkan. Belum lagi masalah akhlak, akidah dan pelaksanaan ibadahnya, yang semakin hari semakin jauh dari tuntunan Rasulullah. Maka sangat diperlukan kerjasama dari semua fihak untuk mengatasinya. Yaitu mengembalikan kebiasaan membaca al-Qur’an di rumah-rumah kaum muslimin dan membekali kaum muslimin dengan nilai-nilai Islam, sehingga bisa hidup secara Islami demi kebahagiaan dunia dan akhirat.
Pada dekade belakangan ini telah banyak metode pengajaran baca tulis al-Qur’an dikembangkan, begitu juga buku-buku panduannya telah banyak disusun dan dicetak. Para pengajar baca tulis al-Qur’an tinggal memilih metode yang paling cocok baginya, paling efektif dan paling murah. Dunia pendidikan mengakui bahwa suatu metode pengajaran senantiasa memiliki kekuatan dan kelemahan. Keberhasilan suatu metode pengajaran sangat ditentukan oleh beberapa hal, yaitu: kemampuan guru, siswa, lingkungan, materi pelajaran, alat pelajaran, tujuan yang hendak dicapai. Dalam mengajarkan baca tulis al-Qur’an harus menggunakan metode. Dengan menggunakan metode yang tepat akan menjamin tercapainya tingkat keberhasilan yang lebih tinggi dan merata bagi siswa.
Pendidikan di Indonesia dalam lintas sejarah pernah digiring ke dalam pemisahan antara pendidikan agama dan pendidikan umum. Pendidikan agama diwakili oleh lembaga pesantren yang bersifat pribumi, sedangkan pendidikan umum diwakili oleh lembaga pendidikan yang didirikan oleh penjajah. Pemisahan ini berkaitan dengan usaha untuk meredam daya kritis umat Islam dengan menjauhkan mereka dari modernisasi pendidikan. Umat Islam dibiarkan mengembangkan pendidikan yang berorientasi ukhrowi semata dan meninggalkan pendidikan yang berorientasi membangun peradaban yang maju.
Pendobrak hegemoni penjajah ini adalah sebagaian ulama Indonesia yang kritis seperti K.H. Ahmad Dahlan, dan Syeikh Ahmad Syurkati. Mereka mencoba menggabungkan antara pendidikan agama dengan pendidikan modern dengan tujuan mengeluarkan umat Islam dari belenggu kebodohan akibat sistem yang dibangun oleh penjajah. Ada dua faktor yang mendorong usaha pengintegrasian antara pendidikan agama dengan pendidikan modern, yakni :
a. Faktor internal. Faktor pendorong yang berasal dari dalam diri ulama yang bersifat kritis terhadap permasalahan. Mereka melihat ada kejumudan dalam diri umat Islam yang ditunjukkan dalam praktek pendidikan yang berorientasi akhirat semata. Sedangkan dalam diri mereka tertanam idiologi kuat bahwa syariat Islam yang rahmatan lil’alamin merupakan syari’at yang sempurna dan menyeluruh. Islam tidak mendikotomikan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.
b. Faktor eksternal. Adanya usaha dari penjajah untuk melanggengkan kebodohan dan kemiskinan bangsa terutama umat islam agar tidak mampu memberikan perlawanan. Usaha ini diantaranya dengan mendirikan sekolah modern yang hanya diperuntukkan untuk kaum bangsawan dan borjuis semata. Sedangkan rakyat biasa tidak diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan modern. K.H. Ahmad Dahlan dengan daya kritisnya telah berhasil merintis lembaga pendidikan yang mengintegrasikan antara pendidikan modern dan pendidikan agama yang seimbang. Hasilnya ribuan sekolah sekarang tersebar di nusantara. Syeikh Ahmad Syurkati juga mencoba untuk merintis pendidikan terpadu yang tidak mementingkan salah satu dari ilmu ukhrawi dan ilmu duniawi.
Peran Ormas dalam Pendidikan
Rintisan sekolah yang memadukan antara pengetahuan modern dan pengetahuan agama secara faktual dikembangkan oleh ormas-ormas Islam yang didirikan oleh ulama-ulama Indonesia. Lembaga pendidikan ini sampai sekarang masih tetap eksis dan berkembang memberikan peran penting untuk dunia pendidikan Indonesia. Hampir semua ormas Islam yang mengembangkan amal usaha pendidikan mencoba menggabungkan pengetahuan agama dan pengetahuan umum secara seimbang dalam pengajaran di sekolah-sekolah. Beberapa ormas ini di antaranya Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama, Al-Irsyad, Persis, dan ormas Islam lainnya.
Negara sebagai pihak yang berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, menfasilitasi rakyatnya melalui sekolah-sekolah negeri. Berbeda dengan ormas Islam, sekolah negeri cenderung menjadi sekolah umum dengan didominasi pendidikan duniawi dan minim pendidikan agama. Meskipun pemerintah juga memfasilitasi dengan mendirikan sekolah seperti MIN, MTsN, dan MAN. Namun persentasenya masih sedikit. Sebagian besar sekolah negeri didominasi oleh sekolah umum yang hanya memberikan pelajaran agama sekitar 2 jam per minggu. Kurikulum sekolah negeri mengakomodasi pendidikan al-Qur’an melalui mata pelajaran PAI, dan mata pelajaran al-Qur’an dan hadis di MIN, MTsN, dan MAN. Bahkan di sekolah swasta di bawah naungan ormas Islam pengajaran al-Qur’an juga diakomodasi dalam pelajaran al-Qur’an dan hadis.
Pembelajaran al-Qur’an di Indonesia lebih banyak dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan dalam bentuk pesantren dan juga oleh lembaga pendidikan informal seperti TPQ yang dikelola oleh masyarakat. Pesantren tentu memegang peranan penting dalam mengembangkan pembelajaran al-Qur’an, karena melalui pesantren pendidikan al-Qur’an dapat dilaksanakan dengan intensif. Tetapi apakah pesantren mampu mencukupi kebutuhan umat Islam mayoritas akan pendidikan al-Qur’an?
Lembaga pendidikan al-Qur’an yang bersifat informal seperti TPQ mengambil peran untuk mengisi kekosongan pembelajaran al-Qur’an di luar pesantren. Swadaya masyarakat berperan penting dengan dukungan para kader al-Qur’an sebagai pengelola. Peran lembaga informal ini mesti tetap dipertahankan dengan menjaga dinamika dan kemajuan pembelajaran TPQ.
Pembelajaran al-Qur’an di Sekolah Formal
Integrasi manajemen dan guru
Pembelajaran al-Qur’an di sekolah formal di luar pesantren bisa menjadi rintisan bagi umat Islam. Pendidikan al-Qur’an diakomodir dalam program sekolah yang terintegrasi dalam kurikulumnya. Sistem yang diterapkan bisa dalam dua bentuk yaitu, pembelajaran al-Qur’an dilaksanakan di sekolah sepenuhnya, dan pembelajaran al-Qur’an dilaksanakan dengan model jaringan. Sekolah formal yang memprogramkan pembelajaran al-Qur’an dalam kurikulumnya mengembangkan jaringan dengan lembaga pendidikan al-Qur’an informal swadaya masyarakat. Jaringan seperti ini memungkinkan sekolah mendorong anak didiknya untuk belajar al-Qur’an tanpa menerapkan sistem fullday school. Proses pembelajaran dilaksanakan oleh pendidikan al-Qur’an informal, sedangkan sekolah melakukan penilaian dan evaluasi.





Manusia Terbaik Adalah Yang Bermanfaat terhadap Yang Lainnya