Email: tafsirhadits@ymail.com / emand_99@hotmail.com

Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label Nuzulul Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nuzulul Qur'an. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Maret 2026

Makna Nuzulul Qur’an dalam Realitas Sosial Umat Islam di Bulan Ramadan


Bulan Ramadan selalu menghadirkan momentum istimewa bagi umat Islam, salah satunya adalah peristiwa Nuzulul Quran yang menandai turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW. Secara etimologis, Nuzulul Quran terdiri dari dua kata, yaitu nuzul yang berarti turun dan Quran yang merujuk pada kitab suci umat Islam. Para ulama menjelaskan bahwa penggunaan kata "turun" dalam konteks ini tidak dapat dipahami secara harfiah sebagai perpindahan fisik dari tempat tinggi ke rendah, melainkan secara majazi sebagai penyampaian wahyu dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan Malaikat Jibril . Peristiwa agung ini terjadi pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadan, ketika Jibril menyampaikan wahyu pertama, yaitu Surah Al-Alaq ayat 1-5, di Gua Hira . Meskipun terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai tanggal pastinya—ada yang berpendapat 17 Ramadan dan lainnya 24 Ramadan—esensi dari peristiwa ini tetap sama, yaitu sebagai awal dari proses turunnya Al-Qur'an secara berangsur-angsur selama 23 tahun masa kenabian .

Di tengah masyarakat Indonesia, peringatan Nuzulul Quran tidak sekadar menjadi seremoni keagamaan, melainkan telah menjelma menjadi tradisi budaya yang kaya makna dan beragam bentuknya. Ragam tradisi yang berkembang di berbagai daerah, seperti tradisi Seribu Tumpeng atau Maleman Sriwedari di Solo, di mana masyarakat berkumpul pada malam ke-21 Ramadan untuk menyaksikan arak-arakan seribu nasi tumpeng dari Keraton Kasunanan Surakarta menuju Joglo Sriwedari sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur . Di Aceh, masyarakat merayakan Nuzulul Quran dengan memasak Kuah Beulangong secara gotong royong pada tanggal 17 Ramadan, lengkap dengan penyembelihan sapi yang dibeli dari dana sumbangan warga . Sementara itu, di berbagai daerah seperti Bojonegoro dan Barito Selatan, peringatan Nuzulul Quran diisi dengan kegiatan khataman Al-Qur'an yang dilakukan secara bersama-sama, kemudian ditutup dengan doa bersama dan makan sebagai bentuk rasa syukur . Keberagaman tradisi ini menunjukkan bahwa peringatan Nuzulul Quran telah berhasil membaur dengan kearifan lokal tanpa kehilangan esensi spiritualnya.

Semangat kebersamaan dalam memperingati Nuzulul Quran juga tercermin dari sinergi berbagai elemen masyarakat dan pemerintah. Di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, peringatan Nuzulul Quran di Pondok Pesantren Syekh Abu Shohir dihadiri oleh jajaran Kepala Kantor Kemenag, Kepala KUA se-Kabupaten Asahan, para penyuluh agama Islam, serta tokoh tarekat dan masyarakat . Kepala Kantor Kemenag Asahan, H. Abdul Manan MA, dalam arahannya menegaskan bahwa peringatan Nuzulul Quran harus dijadikan momentum untuk kembali mencintai dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pelayanan publik . Hal serupa juga terjadi di Barito Selatan, Kalimantan Tengah, di mana Panitia Hari Besar Islam bersama Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia menggelar muqaddam atau khataman Al-Qur'an yang diikuti perwakilan ustaz, ustazah, dan organisasi perangkat daerah sebagai wujud meningkatkan kecintaan umat terhadap Al-Qur'an . Fenomena ini menggambarkan bahwa Nuzulul Quran menjadi perekat sosial yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat dalam satu ikatan spiritual.

Memasuki Ramadan 1447 H/2026 M, dinamika sosial masyarakat turut mewarnai pelaksanaan ibadah di bulan suci. Wakil Menteri Agama Muhammad Syafii mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aksi sweeping terhadap rumah makan selama Ramadan, menekankan pentingnya toleransi antara umat Islam yang menjalankan puasa dan warga lain yang tidak memiliki kewajiban serupa . Imbauan senada juga disampaikan Majelis Ulama Indonesia Banyuwangi terkait potensi perbedaan awal puasa, di mana Ketua MUI Banyuwangi KH. A. Muhaimin Asymuni mengajak umat Islam untuk menyikapi setiap perbedaan cara pandang secara ilmiah dan beradab, serta tidak saling menghujat . Dalam konteks peringatan Nuzulul Quran, semangat toleransi ini menjadi fondasi penting agar setiap kegiatan keagamaan dapat berlangsung khidmat tanpa mengganggu keharmonisan sosial di tengah masyarakat majemuk Indonesia.

Antusiasme masyarakat dalam menyambut Ramadan dan memperingati momen-momen penting seperti Nuzulul Quran juga terlihat dari fenomena "war takjil" yang menjadi pemandangan khas di berbagai kota. Di Pasar Ramadan WR Supratman, Pekanbaru, warga rela antre dan berdesakan demi mendapatkan menu takjil favorit sebelum waktu berbuka tiba . Seorang warga, Dwivayana, mengaku sengaja datang lebih awal agar bisa memilih menu incaran seperti sala lauak dan bubur candil, sementara Ridho, seorang karyawan swasta, menikmati sensasi berburu takjil sebagai pengalaman berbeda dibanding membeli makanan di hari biasa . Fenomena ini menunjukkan bahwa semangat Ramadan tidak hanya tercermin dalam ritual ibadah formal, tetapi juga dalam interaksi sosial yang hangat dan penuh kebersamaan. Meskipun peringatan Nuzulul Quran memiliki akar historis yang kuat, ekspresi kegembiraan masyarakat dalam menyambut bulan sura—termasuk melalui tradisi berburu takjil—menjadi bukti bahwa nilai-nilai Ramadan terus hidup dan berkembang dalam keseharian umat.

Di balik berbagai tradisi dan keramaian tersebut, esensi utama Nuzulul Quran tetaplah penguatan hubungan manusia dengan Al-Qur'an sebagai petunjuk hidup. Para ulama menjelaskan bahwa hikmah diturunkannya Al-Qur'an antara lain adalah sebagai sumber petunjuk hidup, pembentukan akhlak mulia, pengokohan tauhid, serta penyedia jawaban atas tantangan zaman . Al-Qur'an diturunkan secara berangsur-angsur selama 23 tahun—13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah—agar mudah dipahami dan diamalkan oleh umat, serta sesuai dengan kondisi dan peristiwa yang terjadi pada masa itu . Proses penurunan bertahap ini mengajarkan bahwa ajaran Islam selalu relevan dengan konteks ruang dan waktu, sebuah prinsip yang penting untuk dipahami dalam mengaplikasikan nilai-nilai Al-Qur'an di era modern. Dengan demikian, memperingati Nuzulul Quran bukan sekadar mengenang peristiwa masa lalu, melainkan momentum untuk kembali merenungkan bagaimana Al-Qur'an dapat menjadi solusi atas berbagai persoalan kontemporer.

Pada akhirnya, Nuzulul Quran mengajak umat Islam untuk tidak hanya merayakan secara seremonial, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai Al-Qur'an dalam keseharian. Fenomena masyarakat di bulan Ramadan—mulai dari tradisi tumpengan, khataman, hingga war takjil—adalah cerminan dari upaya kolektif untuk memaknai kehadiran Al-Qur'an dalam bingkai budaya yang kontekstual. Namun, tantangan tetap ada, seperti potensi perbedaan pemahaman atau gesekan sosial yang dapat mengganggu kekhusyukan ibadah. Di sinilah pentingnya sikap dewasa dalam beragama, saling menghormati, dan menjadikan Al-Qur'an sebagai rujukan utama dalam menyelesaikan perbedaan. Sebagaimana ditegaskan dalam berbagai kajian, keberkahan Nuzulul Quran tidak terletak pada kemeriahan perayaan, melainkan pada sejauh mana umat mampu menjadikan Al-Qur'an sebagai hudan (petunjuk) yang membimbing setiap langkah kehidupan . Ramadan adalah madrasah, dan Nuzulul Quran adalah pengingat bahwa Al-Qur'an harus terus dikaji, dipahami, dan diamalkan, agar cahayanya senantiasa menerangi perjalanan umat manusia menuju kebenaran.





Manusia Terbaik Adalah Yang Bermanfaat terhadap Yang Lainnya

Rabu, 13 Agustus 2014

Makna di Balik ‘Iqra’ yang Diulang

Makna di Balik ‘Iqra’ yang Diulang

P1250558EDIT
Prof Dr. Nasaruddin Umar ~ (Dewan Penasehat ICMI Pusat ) 
Dalam suasana nuzulul Al Qur’an ini, saya ingin menyampaikan, ada hal yang jarang dibahas dalam kitab tafsir dan diceramahkan. Padahal, menurut hemat saya, ini amat penting. Yaitu mengapa sosok Jibril  menggunakan kalimat perintah tiga kali; iqra, iqra, iqra.  Tidak mungkin sosok seperti Jibril melakukan redundant; mubazir. Pasti tiap titik koma punya makna.

Kosakata Yang Asing 
Rasulullah sendiri juga seperti bingung waktu itu.  Sampai berkata; ma ana biqari. Secara ilmu semantik, qaraah adalah suatu kosakata yang tidak familiar di bangsa Arab waktu itu. Karena qaraah padana dengan kataba. Qaraah artinya membaca kitab suci. Sementara di dunia Arab tidak pernah turun kitab suci. Orang Arab itu kalau qaraah merujuk kepada pembaca kitab suci. Jadi Jibril mengatakan iqra. rasulullah menjawab  ma ana biqari.
Mohon maaf, rasanya tidak bisa diterjemahkan bahwa nabi Muhammad buta huruf hanya karena mengartikan ma ana biqari.  Apa kita bangga dipimpin seroang nabi buta huruf? Orang secerdas seperti itu masa’ membaca saja tidak bisa, hanya karena kita membaca qaraah dalam perspektif modern. Padahal qaraah pada masa nabi adalah suatu bahasa Arab yang tidak familiar bagi orang Arab sendiri. Kecuali talaa  yatluw, `utlu;  membaca. Palestina tempat orang membaca kitab suci, karena hampir semua kitab suci turun di sana. Tidak pernah ada kitab suci turun di jazirah Arab.  Maka Nabi mengatakan; saya bukan bangsa pembaca kitab.
Iqra | ma ana biqari.| … baru yang keempat; iqra bismi rabbilkallazi khalaq. Dalam satu tafsir isyari disebutkan, ternyata iqra pertama artinya how to read. iqra kedua; how to learn. ketiga; how to understand. keempat; iqra bismi rabbiq ; how to elevate. Jadi kalau kita baca Al Qur’an kejar target, sudah berapa juz, itu iqra pertama. Ingat , Jibril memerintahkan, bukan hanya satu kali. Ini juga yang perlu kita perjelas, bahwa ustad kita sering mengatakan iqra; bacalah Al Qur’an. Padahal Al Qur’an belum ada waktu itu.
Jadi yang perlu dibaca, dalam ilmu balaghah. ilmu bahasa Arab, apabila ada fi’il amr tanpa maf’ul/ kalimat perintah tanpa objek. Itu yufidul an;  menunjukkan kepada apapun. Semua harus dibaca,  dan yang tentu harus dibaca adalah segala sesuatu selain Allah adalah ayat. Alam raya ini adalah ayat. Sanurihim ‘ayatina fi-l ‘afaqi wa fii anfusihim. diri kitra juga ayat.  Kita diperingatkan bahwa tidak hanya mampu membaca dalam pengertian how to read and learn, tapi juga bagaimana lebih melibatkan lagi tingkatan kesadaran berikutnya. how to understand. Iqra ketiga ada keterlibatan tidak hanya intelektual tapi juga emosional. Iqra ketiga lebih mendalam lagi, ada  keterlibatan emosi.
Contoh, kita melihat banyak foto. Kita melihat ibunda kita . di antara sekian banyak foto kenapa kita terpana melihat foto ibunda kita? Karena ada iqra ketiga di situ. Sejak beliau pergi, tidak ada lagi air mata tumpah mendoakan aku. Demikian kata anaknya. Kita melihat pohon kelapa. Yang menanam adalah bapak saya. Beliau tidak sempat menikmati buahnya. Sayalah yang menikmatinya. Begitu melihat pohon kelapa itu, dia terharu dan terkesan, bahwa di balik buah yang enak ini ada keringat yg pernah mengucur.
ICMI harus mensponsori, sekarang sedang era revolusi mental, mustahil ada revolusi mental  tanpa ada perubahan metodologi atau epistimologi. Maka itu perlu iqra. Apa yang tadi disampaikan Pak Habibie, kalau dalam ilmu tafsir, ini perlu disyarah, perlu diberikan anotasi. Banyak sekali, singkat tapi sangat padat.  Iqra ketiga ini yang kurang dalam umat islam. Bisanya hanya sampai di iqra kedua.  Maka banyak orang makin pintar tapi makin kurang ajar. Mungkinkah ICMI  menjadi ukuran dalam melihat seorang ilmuwan yang tidak mesti harus menyakiti perasaan orang lain.
Baru sedikit orang yang bisa mencapai iqra ketiga. padahal Jibril sudah memperingatkan kita. Iqra.  Lebih sedikit lagi yang mencapai iqra keempat. Kalau orang sudah sampai ke iqra keempat melibatkan spiritualitas, cinta kasih yang sangat dalam. Maka tidak ada satu pun yang tidak bermakna.  ma halaqta hadza bahtila, dan inilah yang dipegang sesungguhnya oleh ilmuwan kita pada abad pertengahan. Pribadi yang sangat utuh.
P1250571EDIT
Saya berikan satu contoh; Ibn Rusyd.  Kalau membaca Ibn Rusyd kira-kira otaknya seperti Pak Habibie. Dia menulis sebuah buku; bidayatul mujtahid. Kalau ulama fikih pernah membacanya, seperti tidak ada lagi kitab  fikih komprehensif selengkap bidayatul mujtahid. Lupa bahwa buku tersebut ditulis seorang dokter yang menulis buku kedokteran Tidak pernah ada yang menyangka kalau Ibn Rusyd seorang fuqaha. Tapi membaca satu karyanya lagi Fasl al-maqal fi ma bayna hikmal sharia, tidak pernah ada yg menyangka kalau dia seorang dokter. Mungkin dianggap seorang sufi yg sangat hebat. Jadi dia sufi, dokter, dan ahli fiqih.  Prakteknya, kalau pagi hari menjadi qadi, di siang hari jadi filosof, di malam hari dia sufi. Pribadi yang utuh.
Ilmuwan lagi juga sama. Jabir ibn Hayyan dikenal the father of chemistry. Lebih dahulu dia menjadi seorang sufi baru menjadi ahli kimia. Anak nakal sebelumnya.  Hati-hati terhadap anak nakal yang pada masa muda, biasanya bikin kejutan di masa tua. Jadi tidak perlu takut terhadap JIL di masa muda tapi justru ibn Arabi, imam al Ghazali, Hasan Basri , mantan pemikir bebas. Tapi karena faktor umur dan kematangan dia menjadi orang paling hebat. Jadi jangan mengecilkan semangat orang yang mungkin berbeda dengan kita sebagai orangtua. siapa tahu di kemudian hari akan menjadi orang hebat. Jabir mengakui; saya dulu sangat nakal, kasar, keras, tapi di atas sejadah malam kok bisa menangis. Perbuatan cengeng seperti ini. Di siang hari dia merenung, hati yang sangat keras bisa lembut. Dia melihat sebuah bongkahan. Batu yang keras ini kalau diproses dan diasah akan menghasilkan batu mulia dan harganya akan lebih mahal. Diambilnya batu itu, dibelah, diasah, jadi permata. Dia melihat logam ini, kalau kita proses akan menjadi logam mulia, emas. Jadi al kimia yang melahirkan kimia.
Pengetahuan Keilahian
Kelemahan kita  sebagai seorang ilmuwan modern  mungkin karena terlalu cerebral-oriented Akhrinya apa yang terajdi, ilmu selalu kita konotasikan dengan akal. Padahal sesungguhnya, wilayah kita ada divine knowledge. Tiap orang memiliki human knowledge dan divine knowledge. Divine knowledge (pengetahuan keilahian) ada 3 tingkatan. Kalau jatuhnya kepada seorang nabi, maka itu disebut wahyu, 100% benar maka itu disebut haqqul yakin. Kalau  jatuhnya kepada seorang wali, kira-kira 90% benar.  Divine knowledge adalah. tingkat kebenarannnya ainul yakin. Kalau orang seperti kita jangan kuatir, kita juga punya akses untuk ke sumber knowledge namanya ta’lim. Prosentase kebenarannya di atas 80%. Tingkat kebenarannnya ilmul yakin.
Jadi, bapak-ibu sekalian, semua orang punya kemampuan mengakses alam sana. Kita tidak bisa hanya percaya satu alam. Al Fatihah yang selalu kita  baca. Alamin itu jamak. Kalau hanya satu alam; alamun. jadi ada alam syahadah mutlak, alam syahadah relatif, alam ghaib relatif, alam gaib mutlak dan ada yang bukan alam.  Itulah wilayah keilahian wahidiyah dan ahadiyah dalam imu tasawuf.  Orang yang bersih hatinya mampu mengakses alam-alam di atas. Makin tinggi alam itu makin dekat  kepada Allah. Makanya kita baca dalam jami karamatul aulia; alangkah miskinnya seorang ilmuwan kalau gurunya hanya orang hidup. Bahkan ada lagi, alangkah miskinnya seorang murid kalau gurunya hanya manusia biasa. Ternyata ulama kita belajarnya kepada macam-macam. Misal, kita dari sunni,  ihya ulumuddin ditulis di puncak menara masjid damaskus. Ada yg protes, syelkh, banyak sekali hadis di ihya ulumuddin yang saya tidak pernah baca di kitab hadis. Ia menjawab; saya tidak pernah menulis sebuah hadis dalam kitab ihya tanpa konfirmasi dulu kepada Nabi. Rasululullah wafat 622 H, al Ghazali 1111 H.  Ada duaratusan hadis dalam ihya. Berarti bisa duaratusan kali bertemu Nabi hanya satu kitab.
Kata Rasulullah  dalam hadis bukhari muslim, siapa yang bermimpi menjumpai aku, aku betul-betul yang dilihat. Satu-satunya wajah yang tidak bisa dipalsukan iblis adalah wajahku. Itu bukan hanya Imam al Ghazali.  Dalam jami karamatul aulia ada 459 wali di situ. Tidak ada wali songo, saya lihat tidak tahu kenapa. Rata-rata  punya akses ke sumber ilmu pengetahuan.  Jadi betapa dangkalnya ilmu pengetahuan kita kalau menafikan apa yang sekarang ini dipandang enteng.  Astrologi. katanya bidah. Padahal justru kalau kita lihat ada 27 ilmuwan terkemuka pada abad pertengahan mengakuinya. Hanya astrologi mereka tidak seperti astrologi Cina, Romawi/ Eropa dan India. Itu memang syirik. Astrologi islam tidak lain adalah mukasyafah itu sendiri.  Kita tahu kalau orang bersih hatinya mampu memantulkan cahaya  dari yang Maha Bercahaya.
Jadi sumber pengetahuan dalam Islam ada enam. Sementara Barat hanya akumulasi deduktif keilmuwan itu. kita percaya mimpi sebagai sumber ilmu pengetahuan. Kalau tidak meyakininya, berarti  sebagian ajaran Islam hilang. Wajib hukumnya menyembelih domba saat idul adha dasarnya mimpi. Aku melihat engkau dalam mimpi, aku menyembelih engkau. Kalau menolak mimpi, sebagian ajaran islam  hilang. Dalam Islam ada 5 tingkatan mimpi.Ada yg disebut al hilm; anak remaja yang bermimpi basah; hilmun. Ada lagi manamats; mimpi para nabi. sama dengan wahyu. Ada lagi ru’ya sadiqa; beberapa wali termasuk Nabi Yusuf menggunakan istilah tersebut.
P1250598EDIT
Ada lagi yang disebut waqiiyat, para suluk, pemimpin tarekat tempo dulu. Betul-betul sangat bersih hatinya. Dalam satu kitab kuning. suhra wardi. ‘pak kiyai habis perbekalan ini, setelah tadabur ke gunung. Kita berdoa. Antara tidur dan tidak, dia diperlihatkan, pergilah ke bawah pohon gali di situ ada bungkusan  jubah warna hijau. Hati-hati karena di dalam kantungnya ada keping-keping emas.  Para santri menggali dan benar ada. Kalau kebetulan hanya ada 2-3. Kalau ada ribuan pasti  bukan kebetulan. kalau ini ditiadakan, berarti besar sekali kerugian umat Islam.
Karena itu, bapak-ibu sekalian, kita menuntut ilmu terlalu otak- oriented. Akhirnya kita lihat sekarang apa yang terjadi. divine  knowledge tidak diminati orang.  Padahal diakui atau tidak, pengakuan yang cerdas tiba-tiba muncul dalam benak kita bukan punya kita tapi Allah. Ada dua macam pengetahuan; melalui olah nalar bahasa arabnya ilmun.  Ada olah batin; ma’arifah. ilmun sedikit tapi hikmah dahsyat luar biasa. Unlimited. Tanpa batas. “Yu‘-til-hikmata man yasyaa-u waman yu’tal-hikmata fa qad uutiya khairan katsiiran” . “Allah memberikan kebijaksanaan (hikmah) kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan orang yang diberikan Allah kebijaksanaan itu, sesungguhnya telah diberi kebaikan yang banyak” (QS:Al Baqarah 269) .
Terakhir saya ingin menyimpulkan sudah saatnya ICMI mempromosikan suatu metodologi keilmuwan yang bisa mengeksplor kembali nilai-nilai luhur kita.  Nilai-nilai Al Qur’an itu sendiri. Terlalu banyak kerugian kalau kita menafikan sumber-sumber ilmu pengetahuan  disebutkan tadi, termasuk intuisi yang dipelihara akan sangat tajam. Mintalah pandangan terhadap hati. Tapi bagaiman hati yang tidak pernah terawat bisa dimintai pandangan, karena hati-hati, iblis sekarang bisa menyamar menggunakan jubah malaikat. Sebaliknya malaikat juga kadang menggunakan jubah iblis untuk menguji kita.
Saya akan menutup dengan hadis; suatu saat Abu Hurairah, pemegang kunci baitul maal diperingatkan Rasulullah, hati-hati nanti malam akan datang pencuri. lewat tengah malam. Muncul dan ditangkap. Ia lalu memohon; maaf saya terpaksa mencuri karn orang yua dan anak saya sakit. dilepas. Kata Rasulullah nanti malam akan datang pencuri baru. Begadang. Akhirnya ditangkap lagi. Singkatnya beriba-iba lagi terhadap Abi Hurairah.
Sampai malam ketiga masih ada pencuri yang datang dan ditangkap mengatakan; terima kasih abu hurairah, dua malam berturut-turut engkau melepaskan aku. Sekarang engkau akan menyerahkan ke pengadilan, mungkin saya akan dieksekusi, tapi sebelumnya saya akan meghibahkan kepadamu tanda terima kasih. Apa itu? saya akan mengajari engkau wirid. Kalau engkau membacanya kamu tidak akan pernah bisa digoda oleh iblis. dan kalau engkau baca setan dan iblsi lari terbiritbirit sampai mentok ke ujung laingit. Tertarik abi hurairah. Bacalah ayat kursi. Jadi iblis ini yang menyamar sebagai pencuri fasih sekali membaca ayat kursi.  Yang kita pelajari. justru iblis fasih membacanya. Sekarag susah membedakan mana iblis mana malaikat.

Tausiyah Ramadhan di kediaman Ketua Dewan Kehormatan ICMI, Prof Dr -Ing. BJ Habibie (14/7/14)

Sumber: https://sitarlingicmi.wordpress.com/2014/08/13/pengetahuan-keilahian/ 








Manusia Terbaik Adalah Yang Bermanfaat terhadap Yang Lainnya