Email: tafsirhadits@ymail.com / emand_99@hotmail.com

Powered By Blogger

Minggu, 22 Februari 2026

Eksistensi Kesehatan di Bulan Ramadan: Ibadah Optimal dan Tantangan Modern

Sulaiman Ibrahim
     
 
Bulan suci Ramadan selalu dinanti-nantikan oleh umat Islam di seluruh dunia. Di bulan yang penuh berkah ini, umat Muslim berlomba-lomba meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, mulai dari puasa wajib, salat tarawih, tadarus Al-Qur'an, hingga berbagai amalan sunnah lainnya. Namun, di tengah semangat spiritual yang membuncah, terkadang ada satu aspek penting yang luput dari perhatian: kesehatan. Padahal, nikmat sehat merupakan fondasi utama agar seorang hamba dapat beribadah secara optimal. Ketika tubuh dalam kondisi prima, seseorang dapat menjalankan puasa dengan lancar, salat malam dengan khusyuk, dan beraktivitas positif lainnya tanpa hambatan. Sebaliknya, jika kesehatan diabaikan, ibadah pun bisa terhambat. Dalam kaidah ushul fiqih bahkan dinyatakan, "Suatu perkara yang tidak akan sempurna kewajiban kecuali dengannya, maka perkara tersebut dihukumi wajib" . Dengan demikian, menjaga kesehatan di bulan Ramadan bukan sekadar pilihan, melainkan bagian tak terpisahkan dari upaya menyempurnakan ibadah puasa itu sendiri.

Konsep kesehatan dalam Islam sangatlah holistik, mencakup kesehatan jasmani, rohani, dan sosial. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 183, "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa" . Ayat ini menegaskan bahwa tujuan akhir dari puasa adalah pencapaian takwa. Menariknya, untuk mencapai derajat takwa tersebut, seorang Muslim memerlukan kondisi jiwa yang tenang (nafs al-muthmainnah) dan raga yang sehat. Puasa melatih pengendalian diri, menahan lapar dan dahaga, serta mengelola emosi, yang semuanya berkontribusi pada kesehatan rohani. Sebagaimana disampaikan dalam sebuah kajian, puasa dapat meningkatkan stabilitas emosi, memperkuat kendali internal, serta meningkatkan ketahanan terhadap stres dan kecemasan . Inilah dimensi kesehatan mental yang sering kali menjadi "bonus" tersembunyi dari ibadah puasa yang dijalankan dengan sungguh-sungguh.

Dari sisi kesehatan jasmani, Islam telah memberikan panduan melalui Al-Qur'an dan Hadis yang relevan dengan ilmu kesehatan modern. Salah satu tantangan terbesar masyarakat perkotaan saat ini adalah pola makan yang tidak teratur dan cenderung berlebihan, terutama saat berbuka puasa. Allah SWT mengingatkan dalam Surah Al-A'raf ayat 31, "...Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan" . Pesan ini sangat kontekstual dengan kondisi masyarakat sekarang yang sering terjebak dalam budaya "balas dendam" saat berbuka, dengan mengonsumsi makanan dan minuman secara berlebihan, tinggi gula, dan lemak. Padahal, menurut ilmu kedokteran, hal ini dapat menyebabkan gangguan pencernaan, peningkatan berat badan drastis, dan memicu penyakit metabolik . Rasulullah SAW pun mengajarkan etika makan yang sangat sehat, seperti berbuka dengan kurma atau air putih terlebih dahulu , serta menganjurkan untuk makan sahur karena di dalamnya terkandung keberkahan .

Di era modern ini, fenomena menarik terjadi ketika praktik puasa tradisional bertemu dengan tren gaya hidup sehat. Konsep intermittent fasting (IF) yang populer sebagai metode diet dan detoksifikasi, ternyata memiliki kemiripan dengan pola puasa Ramadan. Penelitian menunjukkan bahwa puasa Ramadan dapat memberikan dampak positif pada berat badan, profil lipid, dan proses detoksifikasi alami tubuh . Hal ini membuktikan bahwa syariat Islam yang telah berusia berabad-abad selaras dengan temuan ilmiah kontemporer. Namun, di sinilah letak tantangan bagi masyarakat modern. Seringkali, puasa direduksi maknanya hanya sebagai metode penurunan berat semata, sehingga esensi spiritualnya mulai luntur . Eksistensi kesehatan di bulan Ramadan harus dipahami secara utuh, yaitu sebagai sarana untuk mencapai tubuh yang bugar agar ibadah maksimal, bukan menjadikan ibadah semata-mata sebagai alat untuk mendapatkan tubuh ideal.

Menjaga kesehatan di bulan Ramadan di era digital dan serba cepat juga menuntut manajemen diri yang lebih kompleks. Aktivitas pekerjaan yang menumpuk, ditambah dengan godaan untuk begadang tanpa tujuan yang jelas, seringkali mengganggu pola istirahat. Padahal, tidur yang cukup merupakan kunci menjaga daya tahan tubuh. Para ahli menganjurkan untuk tetap mengambil waktu istirahat, misalnya tidur sejenak di siang hari (qailulah), agar tubuh tetap prima untuk beribadah di malam hari . Selain itu, olahraga ringan seperti jalan santai atau yoga menjelang waktu berbuka dapat membantu menjaga kebugaran tanpa menyebabkan kelelahan berlebih . Keseimbangan antara aktivitas ibadah, pekerjaan, dan istirahat inilah yang harus dikelola dengan baik oleh setiap Muslim di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern.

Pada akhirnya, eksistensi kesehatan di bulan suci Ramadan menegaskan bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil 'alamin, yang ajarannya membawa kemaslahatan bagi seluruh aspek kehidupan. Kesehatan yang terjaga memungkinkan seorang hamba untuk lebih produktif dalam beribadah, meningkatkan kualitas takwa, dan meraih malam Lailatulqadar dengan optimal. Di sisi lain, puasa yang dijalankan dengan penuh keimanan juga akan berbalik memberikan manfaat kesehatan yang luar biasa. Oleh karena itu, di tengah godaan konsumerisme dan gaya hidup tidak sehat yang marak di masyarakat, marilah kita jadikan Ramadan tahun ini sebagai momentum untuk merefleksikan kembali pentingnya menjaga kesehatan. Niatkanlah setiap upaya menjaga pola makan, berolahraga, dan beristirahat sebagai bagian dari ibadah, agar kita tidak hanya pulang dengan predikat takwa, tetapi juga dengan tubuh yang lebih sehat dan jiwa yang lebih bersih. Wallahu a'lam bish-shawab.

Hari ke 4 Bulan Ramadan 1447 H.

 




Manusia Terbaik Adalah Yang Bermanfaat terhadap Yang Lainnya