Konsep kesehatan dalam Islam sangatlah holistik, mencakup kesehatan
jasmani, rohani, dan sosial. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah
Al-Baqarah ayat 183, "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan
atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar
kamu bertakwa" . Ayat ini menegaskan bahwa tujuan akhir dari
puasa adalah pencapaian takwa. Menariknya, untuk mencapai derajat takwa
tersebut, seorang Muslim memerlukan kondisi jiwa yang tenang (nafs
al-muthmainnah) dan raga yang sehat. Puasa melatih pengendalian diri,
menahan lapar dan dahaga, serta mengelola emosi, yang semuanya berkontribusi
pada kesehatan rohani. Sebagaimana disampaikan dalam sebuah kajian, puasa dapat
meningkatkan stabilitas emosi, memperkuat kendali internal, serta meningkatkan
ketahanan terhadap stres dan kecemasan . Inilah dimensi kesehatan mental
yang sering kali menjadi "bonus" tersembunyi dari ibadah puasa yang
dijalankan dengan sungguh-sungguh.
Dari sisi kesehatan jasmani, Islam telah memberikan panduan melalui
Al-Qur'an dan Hadis yang relevan dengan ilmu kesehatan modern. Salah satu
tantangan terbesar masyarakat perkotaan saat ini adalah pola makan yang tidak
teratur dan cenderung berlebihan, terutama saat berbuka puasa. Allah SWT
mengingatkan dalam Surah Al-A'raf ayat 31, "...Makan dan minumlah,
tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang
berlebih-lebihan" . Pesan ini sangat kontekstual dengan kondisi
masyarakat sekarang yang sering terjebak dalam budaya "balas dendam"
saat berbuka, dengan mengonsumsi makanan dan minuman secara berlebihan, tinggi
gula, dan lemak. Padahal, menurut ilmu kedokteran, hal ini dapat menyebabkan
gangguan pencernaan, peningkatan berat badan drastis, dan memicu penyakit
metabolik . Rasulullah SAW pun mengajarkan etika makan yang sangat sehat,
seperti berbuka dengan kurma atau air putih terlebih dahulu , serta
menganjurkan untuk makan sahur karena di dalamnya terkandung keberkahan .
Di era modern ini, fenomena menarik terjadi ketika praktik puasa
tradisional bertemu dengan tren gaya hidup sehat. Konsep intermittent
fasting (IF) yang populer sebagai metode diet dan detoksifikasi,
ternyata memiliki kemiripan dengan pola puasa Ramadan. Penelitian menunjukkan
bahwa puasa Ramadan dapat memberikan dampak positif pada berat badan, profil
lipid, dan proses detoksifikasi alami tubuh . Hal ini membuktikan bahwa
syariat Islam yang telah berusia berabad-abad selaras dengan temuan ilmiah
kontemporer. Namun, di sinilah letak tantangan bagi masyarakat modern.
Seringkali, puasa direduksi maknanya hanya sebagai metode penurunan berat
semata, sehingga esensi spiritualnya mulai luntur . Eksistensi kesehatan
di bulan Ramadan harus dipahami secara utuh, yaitu sebagai sarana untuk
mencapai tubuh yang bugar agar ibadah maksimal, bukan menjadikan ibadah
semata-mata sebagai alat untuk mendapatkan tubuh ideal.
Menjaga kesehatan di bulan Ramadan di era digital dan serba cepat juga
menuntut manajemen diri yang lebih kompleks. Aktivitas pekerjaan yang menumpuk,
ditambah dengan godaan untuk begadang tanpa tujuan yang jelas, seringkali
mengganggu pola istirahat. Padahal, tidur yang cukup merupakan kunci menjaga
daya tahan tubuh. Para ahli menganjurkan untuk tetap mengambil waktu istirahat,
misalnya tidur sejenak di siang hari (qailulah), agar tubuh tetap prima
untuk beribadah di malam hari . Selain itu, olahraga ringan seperti jalan
santai atau yoga menjelang waktu berbuka dapat membantu menjaga kebugaran tanpa
menyebabkan kelelahan berlebih . Keseimbangan antara aktivitas ibadah,
pekerjaan, dan istirahat inilah yang harus dikelola dengan baik oleh setiap
Muslim di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern.
Pada akhirnya, eksistensi kesehatan di bulan suci Ramadan menegaskan bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil 'alamin, yang ajarannya membawa kemaslahatan bagi seluruh aspek kehidupan. Kesehatan yang terjaga memungkinkan seorang hamba untuk lebih produktif dalam beribadah, meningkatkan kualitas takwa, dan meraih malam Lailatulqadar dengan optimal. Di sisi lain, puasa yang dijalankan dengan penuh keimanan juga akan berbalik memberikan manfaat kesehatan yang luar biasa. Oleh karena itu, di tengah godaan konsumerisme dan gaya hidup tidak sehat yang marak di masyarakat, marilah kita jadikan Ramadan tahun ini sebagai momentum untuk merefleksikan kembali pentingnya menjaga kesehatan. Niatkanlah setiap upaya menjaga pola makan, berolahraga, dan beristirahat sebagai bagian dari ibadah, agar kita tidak hanya pulang dengan predikat takwa, tetapi juga dengan tubuh yang lebih sehat dan jiwa yang lebih bersih. Wallahu a'lam bish-shawab.
Hari ke 4 Bulan Ramadan 1447 H.

.jpeg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar