Email: tafsirhadits@ymail.com / emand_99@hotmail.com

Powered By Blogger

Rabu, 29 Mei 2013

REKOMENDASI DAN HIMBAUAN MUSYAWARAH KERJA NASIONAL ULAMA AL-QUR'AN

Serang-Banten, 21 – 24 Mei 2013

Tema: “Al-Qur’an di Era Global; Antara Teks dan Realitas”

Dalam upaya mensosialisasikan dan mendapatkan masukan atas produk hasil kajian Tafsir Tematik dan Tafsir Ilmi yang diterbitkan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, dan untuk membahas berbagai persoalan aktual yang terkait dengan tafsir Al-Qur'an, serta menggali ide-ide untuk pengembangan pengkajian dan pengamalan Al-Qur`an di tengah masyarakat Indonesia, Kementerian Agama RI, melalui Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an (LPMA) Balitbang Kemenag RI, telah menyelenggarakan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Ulama Al-Qur'an, pada tanggal 21 – 24 Mei 2013, di Hotel Le Dian Serang Banten. Mukernas yang diikuti oleh 120 peserta yang terdiri dari para ulama, akademisi dan peneliti Al-Qur`an selama empat hari itu mengambil tema “Al-Qur'an di Era Global: Antara Teks dan Realitas”.
Mukernas Ulama Al-Qur`an dibuka secara resmi oleh Bapak Menteri Agama RI, Dr (HC) H. Suryadharma Ali yang dalam kesempatan pembukaan memberikan pengarahan. Para peserta Mukernas sepakat untuk menetapkan beberapa butir penting dari pengarahan Bapak Menteri Agama sebagai pertimbangan utama. Butir-butir tersebut adalah:
1. Untuk menjamin ketersediaan kitab suci yang shahih, Pemerintah telah berupaya sungguh-sungguh untuk memastikan agar tidak ada kesalahan, sekecil apa pun, di dalam mushaf yang beredar di Indonesia. Oleh karenanya, bila ditemukan kesalahan dalam mushaf Al-Qur`an yang beredar agar segera melaporkan kepada Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an.
2. Seiring dengan semakin kompleksnya tantangan kehidupan yang begitu sangat dinamis, masyarakat Muslim Indonesia membutuhkan pemahaman yang mendalam terhadap Al-Qur`an. Semangat keberagamaan masyarakat yang dirasa semakin meningkat hendaknya juga diimbangi dengan pengetahuan dan tradisi ilmiah yang kuat. Oleh karenanya, Kementerian Agama menaruh perhatian yang besar terhadap keberadaan terjemah dan tafsir Al-Qur’an dengan mengusahakan penyusunan terjemah maupun tafsir Al-Qur’an dengan berbagai variannya.
3. Keragaman masyarakat Indonesia dari segi agama, budaya, suku dan etnis, menuntut adanya pemahaman yang moderat agar tercipta kerukunan dan keharmonisan. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk, dan telah bertekad untuk hidup bersama dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang menghargai kebhinekaan, maka sepatutnya kita mengembangkan kehidupan keagamaan yang memahami realitas masyarakat, terbuka terhadap pandangan lain yang berbeda dan menghormatinya serta mengedepankan skala prioritas dalam membangun masyarakat.
4. Seluruh komponen bangsa, terutama para ulama, akademisi dan cendekiawan Muslim, agar bekerjasama dalam membangun ketahanan pemikiran dan pemahaman keagamaan (al-amnu al-fikriy) bagi masyarakat dalam menghadapi arus globalisasi yang menyangkut berbagai paham dan budaya, melalui pendidikan agama dan keagamaan yang berkualitas. Kementerian Agama sangat berkepentingan dengan terbangunnya ketahanan pemikiran dan pemahaman keagamaan masyarakat, sebab pembangunan nasional akan berhasil antara lain dengan membangun kehidupan keagamaan yang berkualitas.
5. Para ulama hendaknya dapat membimbing umat dalam mewujudkan kehidupan keagamaan yang rukun, damai dan harmonis, melalui pemahaman dan pengamalan nilai-nilai agama secara proporsional, jauh dari sikap al-ghuluww (ekstrim) yang ditandai antara lain dengan fanatisme yang berlebihan, cenderung mempersulit orang dalam beragama, berprasangka buruk terhadap orang lain dan menganggap hanya dirinya yang baik dan benar, sehingga tidak terbuka terhadap pandangan lain yang berbeda.
Selanjutnya, para peserta Mukernas mengkaji dan membahas 5 buku tafsir tematik dan 3 buku tafsir ilmi, dan mendiskusikan tema “Al-Qur`an di Era Global; Antara Teks dan Realitas”, dengan menyoroti tiga aspek; 1) Upaya tafsir Al-Qur'an Indonesia menjawab tan¬tangan zaman; 2) Pembelajaran Al-Qur'an di tengah masyarakat Indo¬nesia; 3) Mushaf Al-Qur'an: rasm, qirâ’ât, dan sejarah penya¬linan dan pencetakannya. Dari hasil kajian dan diskusi tersebut, dan mengingat pertimbangan utama dari pengarahan Bapak Menteri Agama, para peserta Mukernas menyampaikan rekomendasi sebagai berikut :
1. Memberikan apresiasi penuh terhadap upaya Kementerian Agama RI dalam meningkatkan kualitas kehidupan umat beragama melalui pemahaman kitab suci secara baik dan benar dengan menyusun dan menerbitkan Tafsir Tematik dan Tafsir Ilmi.
2. Memberikan dukungan kepada Kementerian Agama RI untuk keberlangsungan kegiatan penyusunan Tafsir Al-Qur`an dengan berbagai pendekatan, dengan melibatkan para ulama dan pakar yang berlatar belakang keahlian ilmu berbeda dalam sebuah atau beberapa tim kerja yang saling melengkapi.
3. Memberikan saran, masukan dan catatan dari forum Musyawarah Kerja Nasional Ulama Al-Qur’an untuk menjadi bahan penyempurnaan Tafsir Tematik dan Tafsir Ilmi pada edisi berikutnya.
4. Mendorong Kementerian Agama RI untuk mensosialisasikan karya-karya Tafsir Tematik dan Tafsir Ilmi setelah dilakukan perbaikan dan penyempurnaan berdasarkan masukan para peserta Musyawarah Kerja Nasional Ulama Al-Qur’an. Perbaikan dan penyempurnaan dimaksud meliputi:
a. Aspek redaksional dengan memaksimalkan proses editing serta mekanisme kontrol kualitas.
b. Aspek substansi terkait dengan tema yang dibahas.
c. Konsistensi penulisan, baik dalam hal sistematika, metodologi, transliterasi, penulisan istilah, dan sitasi.
5. Memperkuat jaringan kerja sama antara pakar Al-Qur'an dan ilmu pengetahuan, baik personal maupun institusional, sehingga proses kajian tafsir Al-Qur`an semakin mendalam dan komprehensif. Untuk itu, para peserta Mukernas mendorong agar Perguruan Tinggi Agama Islam mengembangkan kajian Al-Qur`an dengan pendekataan saintifik, misalnya yang menyangkut aspek kesejarahan dalam penjelasan kisah Al-Qur`an, melalui pembukaan program studi “Arkeologi Qur`ani”.
6. Menghimbau kepada masyarakat luas agar dalam memahami Al-Qur’an tidak hanya berpegang pada terjemahan Al-Qur’an mengingat keterbatasan yang dimiliki oleh setiap terjemahan. Oleh karenanya, pemerintah perlu menerbitkan karya tafsir yang mudah dipahami dan dijangkau oleh semua lapisan masyarakat. Upaya Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an untuk menyusun tafsir ringkas, melengkapi terjemah dan tafsir yang sudah ada, perlu didukung.
7. Membuat langkah-langkah strategis guna meningkatkan pemahaman yang moderat dan komprehensif terhadap Al-Qur'an dalam menjawab tantangan globalisasi, dan meningkatkan peran serta dan kerja sama antara umara dengan ulama dalam memasyarakatkan pemahaman Al-Qur'an yang komprehensif dan moderat.

Menyikapi kegiatan penerbitan Al-Qur`an di Indonesia yang berkembang dengan sangat dinamis, seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat Muslim terhadap mushaf Al-Qur`an dan produk-produk yang terkait dengannya, seperti terjemah, tafsir dll, dan semakin bertambahnya kemudahan dalam proses penerbitan dan peredaran akibat kemajuan di bidang teknologi informasi dan transportasi, para peserta Mukernas menyampaikan himbauan sebagai berikut :
1. Perlunya sistem penjaminan mutu yang terintegrasi, sehingga dalam proses penerbitan, percetakan dan peredarannya tidak ditemukan kesalahan dan hal-hal lain yang dapat mengurangi kesucian Al-Qur`an.
2. Perlu dilakukan usaha menjaga kesucian Al-Qur`an secara komprehensif, mulai dari proses penyiapan naskah, sampai dengan pentashihan, percetakan dan distribusinya di tengah masyarakat, dengan melibatkan unsur Pemerintah dan masyarakat.
3. Perlu adanya standardisasi penerbitan, percetakan dan peredaran Mushaf Al-Qur`an di Indonesia, sehingga stakeholders (masyarakat, pemerintah dsb) memperoleh pelayanan yang memuaskan.
4. Diperlukan regulasi Pemerintah yang lebih komprehensif dan lebih tegas yang mengatur, mengendalikan dan mengawasi penerbitan, percetakan dan peredaran Al-Qur’an demi menjaga kesucian dan kehormatan kitab suci Al-Qur`an.
5. Kepada para pihak yang terlibat dalam penerbitan dan peredaran mushaf Al-Qur’an, hendaknya;
a. mempunyai niat yang ikhlas untuk menyebarkan misi keagamaan (dakwah) Islam, dan tidak semata-mata untuk memperoleh keuntungan duniawi;
b. mendahulukan kepentingan keagamaan di atas kepentingan bisnis;
c. memegang teguh etika dalam memperlakukan lembaran-lembaran mushaf, baik sebelum maupun setelah dicetak;
d. berpegang pada prinsip kehati-hatian dalam rangka menjaga kesucian kitab suci, mengingat kesalahan dalam penerbitan mushaf Al-Qur`an, sekecil apa pun, berpotensi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat, karena terkait dengan hal yang paling mendasar dalam kehidupan umat beragama.

Serang, 24 Mei 2013

Tim Perumus :
1. Prof. Dr. H. Umar Anggara Jenie, Apt., M.Sc. (Ketua)
2. Dr. Muchlis M Hanafi, MA (Sekretaris)
3. Prof. Dr. H. Heri Haryono (Anggota)
4. Prof. Dr. H. Syibli Sardjaya (Anggota)
5. Prof. Dr. H. Huzaimah T Yanggo (Anggota)
6. Prof. Dr. H. Darwis Hude (Anggota)
7. Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, MA (Anggota)


Manusia Terbaik Adalah Yang Bermanfaat terhadap Yang Lainnya

Senin, 27 Mei 2013

Fatin dan X-Islam Factor

 Oleh: M BAMBANG PRANOWO
Guru Besar UIN Jakarta/Rektor Universitas Mathla’ul Anwar, Banten

AJANG X Factor Indonesia (XFI)yang bergengsi dan menjadi acara favorit dalam enam bulan terakhir di RCTI berujung indah dengan kejutan X: Fatin Shidqia Lubis, gadis belia berjilbab, 16 tahun, yang pemalu, lugu, dan baru pertama kali tampil menyanyi di hadapan publik dan layar kaca waktu audisi XFI, ternyata menang.

Dalam pengumpulan SMS, Fatin berhasil mengungguli perolehan SMS Novita Dewi, seorang penyanyi yang matang dengan teknik vokal dan penampilan yang prima. Tapi, tampaknya pemirsa lebih kesengsem melihat gaya Fatin yang lugu, imut, dan asli sehingga SMS membanjir ke arah gadis berjilbab itu. Tepat apa kata musisi Ahmad Dhani: banyak orang yang vokalnya bagus, gayanya bagus, tapi sedikit yang unik dan membuat orang terperangah.

Itulah yang ada dalam diri Fatin sehingga dia pantas menjadi juara XFI pertama. Apa yang menarik dalam diri Fatin selain suaranya yang unik? Ia mempertahankan jilbabnya di tengah kompetisi tarik suara yang menampilkan kultur pop Barat tanpa kehilangan jati dirinya sebagai muslimah. Seorang wanita berjilbab dan dididik agama secara ketat oleh keluarganya ternyata mampu mengembangkan inklusivitas kultural Islam sehingga menembus sekat-sekat yang memisahkan budaya Islam dan Barat.

Ketika Fatin menyanyikan lagu "Grenade"-nya Bruno Mars dan kemudian menjadi perbincangan masyarakat cyber di YouTube, jagat musik internasional pun geger. Jutaan orang, dari Barat dan Timur, terkagum kagum dengan suara si imut Fatin. Fatin membawakan lagu "Grenade"—pinjam ungkapan musisi Ahmad Dhani—lebih bagus dari penyanyi aslinya.

Barangkali itulah yang menyebabkan George Levendis melalui akun Facebook dan Twitter-nya @HellasGL menulis: ”Fatin making an impact in XF Indonesia!”. George Levendis adalah sahabat Simon Cowell (pendiri ajang X-Factor).

George juga seorang eksekutif di perusahaan rekaman dan Syco TV, yang merupakan milik bersama antara Simon Cowell dan Sony Music Entertainment. Berbagai pujian juga muncul ketika Fatin menyanyikan lagu "Stay" milik Rihanna dengan gaya yang unik. Rihanna menyanyikannya dengan gaya pop plus busana minimnya yang seksi, sedangkan Fatin menyanyikannya dengan gaya pop plus busana muslimahnya yang elegan. Jagat musik pop pun tercengang, sampai-sampai wartawan Prancis menyatakan: fenomena Fatin sangat unik karena dia memakai busana religius yang tak pernah dipakai penyanyi mana pun di ajang kompetisi dunia selevel X Factor.

Sebuah pertanyaan menarik, apakah fenomena Fatin menunjukkan dunia Islam sedang mengalami perubahan? Jawabnya: selain akidah Islamiyah, rukun Islam, dan rukun iman, Islam sejak dulu mengalami perubahan kultural yang terus menerus. Pinjam kata-kata almarhum budayawan Kuntowijoyo: Budaya Islam telah berubah dan akan terus berubah karena Islam sangat fleksibel. Kunto menggambarkan perubahan besar itu dari kelahiran Islam di Makkah, kemudian besar di India, Eropa, dan akan mengalami kejayaan di Indonesia.

Seterusnya, akan jaya di seantero dunia. Bayangkan, ketika Islam masuk ke Jawa, Wali Songo menciptakan atribut-atribut kultural yang sama sekali berbeda dengan Islam Arab dan Islam Eropa. Wali Song mem-blending budaya Arab, India, dan budaya lokal untuk memasarkan Islam di Jawa. Hasilnya: Islam berhasil menembus ”pasar” masyarakat Jawa pinggiran, masyarakat Jawa pedalaman, sampai masyarakat priyayi Jawa di keraton- keraton yang dikeramatkan dan eksklusif. Islamisasi Jawa yang terus berkembang sampai hari ini tampaknya sulit dipahami para ilmuwan Barat, bahkan tak berhasil diidentifikasi oleh ilmuwan sekaliber Clifford Geertz.

Geertz dalam buku monumentalnya, Religion of Java, misalnya mengategorikan orang Jawa dalam tiga kelompok—santri, priyayi, dan abangan yang masing-masing terpisahkan karena mempunyai karakter-karakter yang tak bisa saling menyatu. Padahal, orang Jawa masa kini, dengan tuntutan modernitasnya, termasuk dalam menjalankan Islam, masih tetap menghormati budaya-budaya nenek moyangnya.

Geertz mungkin akan kaget jika melihat ada gamelan dan keris di rumah tokoh-tokoh Islam modernis sebab simbol-simbol seperti itu khas priyayi Jawa. Di PDIP, partai yang selama ini diidentifikasi sebagai partai abangan, ada lembaga Baitul Hikmah yang di dalamnya duduk tokoh-tokoh modernis Muhammadiyah, termasuk Buya Syafi’i Maarif. Dalam Pemilu 2014, PDIPbahkansecara berani mendudukkan tokoh Islam modernis sekaligus sufistis, Jalaluddin Rakhmat, untuk anggota DPRI. Di sanalah letak ”X” dunia Islam Indonesia: mampu mengasimilasikan berbagai budaya dengan mulus dan akomodatif.

Pada masa lalu Sunan Bonang misalnya menciptakan tembang "Ilir-Ilir" dan "Tombo Ati" yang sangat etnik. Kedua tembang ini sejak dulu menjadi ”lagu wajib” orang-orang dusun di Jawa untuk menunggu kedatangan imam salat waktu magrib, isya, dan subuh. Tembang ciptaan Sunan Bonang ini kemudian hari direvitalisasi oleh Emha Ainun Najib dan dipopulerkan oleh penyanyi Opick sehingga kini nyaris menjadi ”lagu wajib” dalam acara-acara pengajian di Ibu Kota, sinetron religi, dan gelar budaya Islam di seantero Indonesia.

Dari perspektif inilah, kita melihat fenomena Fatin. Gadis berjilbab itu berhasil menyanyikan lagu "Grenade" dengan apik sehingga pemilik lagu aslinya, Bruno Mars, mengacungkan jempol. Ketika Fatin menyanyikan lagu ikon pop Rihanna dengan sangat bagus, tak hanya pencinta musik yang gempar, tapi juga masyarakat awam. Fatin berhasil mengawinkan ikon pop dan ikon muslim dengan jilbabnya— sesuatu yang nyaris tak mungkin terjadi di dunia Timur Tengah dan dunia Barat. Tapi, di Indonesia? Melalui Fatin, dunia muslim kembali menembus tembok-tembok kultural seperti yang dikategorikan Samuel P Huntington.

Orang semacam Huntington niscaya akan terkejut jika melihat Fatin yang berjilbab menyanyikan lagunya Rihanna dengan elegan tanpa kehilangan modernitasnya. Ini artinya, batasan dunia Islam dan dunia Barat yang ”ditembok” secara amat kuat oleh Huntington menjadi runtuh dalam panggung X-Factor yang dimenangi Fatin. Semua itu bukti bahwa generasi baru Islam tidak tunduk pada batasanbatasan kultural yang oleh Huntington diramalkan akan mengalami benturan (clash civilization).

Huntington mungkin tak pernah memprediksi jika seorang muslimah yang tinggal di negeri sejuta masjid mampu menyanyikan lagu-lagu yang dianggap sebagai simbol kultur pop Barat tersebut. Dalam konteks inilah kemenangan Fatin menjadi amat berarti bagi Islam kultural. Bukan sekadar jilbab dan keunikan suara Fatin yang membuat orang kesengsem, tapi secara kultural penampilan Fatin telah berhasil meruntuhkan temboktembok identitas yang selama ini dibangun para fanatikus dunia Barat dan fanatikus dunia Islam.

Tepat sekali bila ajang XFI ditutup dengan lagu "We are The World"-nya, Michael Jackson, karena memang begitulah yang seharusnya terjadi pada umat manusia. Akhirnya umat Islam harus selalu optimistis dengan dinamika kultural yang terus berubah. Jika saat ini panggung peradaban sedang dikuasai Barat, kata Kunto, percayalah pada masa depan panggung itu akan kembali dikuasai Timur.

Yang dimaksud Timur oleh Kunto adalah Indonesia dengan kultur Islamnya yang unik yang merupakan blend dari berbagai kultur di dunia, dari Timur Tengah, Eropa, Hindustan, China, Jawa, dan kultur-kultur lokal lainnya. Itulah ”X-Islam Factor Indonesia”, Islam masa depan. Fatin sudah memulai langkah pertamanya.

Sumber: Sindo



Manusia Terbaik Adalah Yang Bermanfaat terhadap Yang Lainnya

Senin, 20 Mei 2013

Mengenal Ajatappareng, Kerajaan-kerajaan Bugis Di Barat Danau

KABARKAMI. Ajattappareng atau yang pada masa lampau dikenal dengan nama “Tanah di Barat Danau adalah wilayah geographis dalam istilah politiknya berhubungan dengan bentuk persekutuan konfederasi lima kerajaan Bugis yang terletak pada barat dan utara danau Tempe dan Sidenreng di semenanjung barat daya Sulawesi Selatan. Kerajaan Ini antara lain Sidenreng, Sawitto, Suppaq, Rappang dan Alitta. Kelima kerajaan Ajattappareng ini berjaya sekitar tahun 1700-an dengan hasil bumi yang melimpah sehingga pada akhirnya menjadi rebutan bagi kerajaan-kerajaan besar yakni kerajaan Luwu, kerajaan Bone dan kerajaan Gowa. Dalam persaingan ini kerajaan Gowa akhirnya berhasil mengintervensi sistem pemerintahan dan menjadikan persekutuan lima kerajaan Ajatappareng ini di bawah perlindungannya.

Saat ini, wilayah kerajaan Ajatappareng dibagi menjadi empat kabupaten dan satu kota madya. Sawitto, Alitta dan bagian utara-tengah Suppaq yang sebagian besar menjadi kabupaten Pinrang, yang sebelumnya telah didiami bagi sejumlah pemukiman yang bukan bagian dari wilayah kerajaan Ajattappareng sebelum tahun 1600. Pemukiman ini termasuk Batu Lappaq, Kassaq dan Letta, yang dulunya bagian dari konfederasi Massenrempulu yang dikenal dengan nama Lima Massenrempulu (lima tanah di tepi pegunungan), dan sejumlah pemukiman independen kecil lainnya antara lain Supirang, dihuni oleh orang-orang dengan bahasa, budaya dan etnis yang terkait dengan Mamasa-Toraja. Sementara Letta berada di bawah yurisdiksi Sawitto setelah diserang oleh kerajaan Boné pada tahun 1685 karena membunuh utusan kerajaannya.

Memasuki abad kedua puluh, Belanda menempatkan Batu Lappaq dan Kassaq dalam wilayah teritorial kabupaten Pinrang, bersama dengan Sawitto, Alitta dan bagian utara-tengah Suppaq. Nama Pinrang dipilih oleh Belanda sebagai tanah persetujuan berasal dari anak sungai kecil di Sawitto. Bagian selatan Suppaq dengan pusatnya sekarang terletak di kota madya Parepare dan ujung utara kabupaten Barru yang merupakan wilayah sisa anak sungai dari Suppaq yang terletak pada bagian utara kabupaten Barru. Sebagian besar wilayah Sidenreng dan Rappang menjadi kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). Salah satu wilayah bekas anak sungai Sidenreng yaitu Maiwa, sebagai wilayah yang terbesar dan paling selatan dari lima kecamatan membentuk kabupaten Enrekang.

Wilayah Ajattappareng secara geografis merupakan perpaduan wilayah dari etnis yang beragam, meliputi dataran subur yang luas di bagian selatan dan tengah, daerah pegunungan di bagian utara dari Sidrap dan Pinrang. Beberapa wilayah dibagian selatannya adalah yang paling produktif di pulau Sulawesi sebagai daerah pesawahan yang tumbuh subur yang hanya bisa ditemukan di wilayah ini. Pertanian merupakan pekerjaan utama bagi sebagian besar penduduknya dan diperkirakan telah ada selama berabad-abad. Manuel Pinto, seorang petualang asal Portugis yang pernah menetap di Sidenreng pada tahun 1540-an, menyatakan bahwa daerah ini sangat kaya akan beras dan bahan makanan lainnya. Hingga saat ini, Sidrap dan Pinrang adalah dua produsen pertanian di Sulawesi Selatan yang memproduksi hasil beras terbesar di Asia Tenggara. (sumber: Stephen C. Druce / Widya Ningsih)



dikutip dari: http://www.kabarkami.com/mengenal-ajatappareng-kerajaan-kerajaan-bugis-di-barat-danau.html

Manusia Terbaik Adalah Yang Bermanfaat terhadap Yang Lainnya

Minggu, 19 Mei 2013

Diplomasi Makanan Bugis Ala Jusuf Kalla

MAKASSAR,  Inilah gaya asli Jusuf Kalla. Ketika meninjau persiapan pelaksanaan Pertemuan Centris Asia Pacific Democratic International (CAPDI) yang diikuti sekitar 18 negara di Makassar, JK sempat membuat "kalang kabut" panitia yang mengurusi bidang makanan.
Saat mengecek tempat jamuan makan siang yang diagendakan pada Selasa 21 Mei 2013, JK pun ditunjukkan daftar menu makanan dan test food. JK membaca dengan cermat daftar makanan yang tertulis antara lain, salad, sup, steak dan aneka makanan lainnya yang semua berbau makan Barat.

Kepada tim yang menyiapkan makanan yang didatangkan khusus dari hotel berbintang JK kemudian berbicara dengan gayanya yang kocak.

"Anda jangan sekali-kali menyaingi koki-koki barat dengan menyajikan makanan yang mereka sangat kuasai dan ahli. Lagi pula sangat tidak istimewa kalau Anda sodorkan makanan yang mereka bisa dapatkan dimana saja dan boleh jadi jauh lebih enak," kata JK.

"Pokoknya saya mau anda hidangkan semua jenis makanan Bugis, ada ikan bakar, telur ikan terbang, pallu mara, cobek cobek, sambal mangga," kata JK.

"Kita ini mau makan enak, bukan makan formal-formalan, ini kesempatan kita menunjukkan aneka masakan Bugis, cara dan tradisi kita sebagai orang Bugis menjamu tamu-tamu. Kita tidak boleh terasing di negeri sendiri dengan menjamu mereka makanan ala Barat," papar JK.

"Biarkan mereka menikmati makanan dan merasakan keaslian Bugis, kalau ada rendang nanti mereka bingung, ini kita sedang makan di Makassar atau di kota Padang," ujar JK yang disambut tawa lebar para panitia.

Itulah JK, sangat mencintai bangsanya, sangat menghormati kuliner negerinya, memberikan wadah terhormat terhadap aneka makanan leluhurnya. Itulah diplomasi makanan Bugis ala JK. (Dahlan Dahi/ Tribunnews)

Sumber: KOMPAS.com -



Manusia Terbaik Adalah Yang Bermanfaat terhadap Yang Lainnya